Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM – Keterbatasan pekerja tidak menyurutkan kepercayaan sosok pelaku usaha satu ini. Meski 50% dari total 12 pegawainya memiliki kekurangan fungsi fisik, proses usaha yang berlangsung tak lantas jadi kendala. Itulah yang dialami seorang pelaku usaha dari Surabaya Timur, yaitu UMKM Batik Wistara.
Pelaku UMKM Batik Wistara, Sumarni bercerita awal merintis usaha batik, dirinya bekerja bersama tenaga kerja non-disabilitas. Namun, perjalanan usahanya berubah ketika bertemu dua orang penyandang tunadaksa dan tunarungu yang telah berhari-hari mencari pekerjaan.

“Saya bertanya pada mereka sudah dua minggu belum dapat pekerjaan, kemudian bisanya apa? Kebetulan keduanya bisa jahit dan kemudian janjian mereka bekerja di sini hingga sekarang,” cerita Sumarni.
Menurutnya, keputusan membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas menjadi bagian dari perjalanan Batik Wistara hingga berkembang seperti saat ini. Selama 16 tahun menjalankan usaha, ia mengaku tidak menemui kendala berarti dalam bekerja bersama para penyandang disabilitas. “Usaha kami sudah berjalan selama 16 tahun ini semuanya aman,” tambahnya.
Kondisi itu memantik motivasi dosen Universitas Hayam Wuruk Perbanas untuk berkontribusi melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat melalui pengembangan teknologi cap batik berbahan resin hasil 3D printing yang dirancang lebih ringan, mudah digunakan, dan sesuai dengan kebutuhan para perajin disabilitas.
Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) UHW Perbanas, Nanang Setiyoko, S.Pd., M.A., mengungkapkan kegiatan pengabdiannya tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi bertujuan memperkuat pemberdayaan penyandang disabilitas melalui inovasi teknologi yang mudah diterapkan.
“Kami ingin teknologi benar-benar menjadi alat pemberdayaan. Bukan sekadar memberikan alat, tetapi memastikan para perajin mampu menggunakannya secara mandiri sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ungkap Nanang saat dihubungi pada Kamis (6/8).
Kegiatan yang diawali Juli kemarin, Nanang pun mengidentifikasi kebutuhan mitra, dilanjutkan perancangan solusi, pelatihan, praktik langsung, hingga pendampingan. Selain pelatihan penggunaan cap batik resin hasil 3D printing, tim UHW Perbanas juga memberikan pelatihan pemasaran UMKM dan pelatihan pembuatan merchandise dari sisa produksi batik.
Menurutnya, keterbatasan fungsi fisik perajin batik menjadi alasan timnya mengembangkan cap batik berbahan resin menggunakan teknologi 3D printing. “Teknologi cap batik berbahan resin kami rancang agar lebih ringan, mudah digunakan, dan menggunakan pendekatan kerja yang lebih visual sehingga sangat sesuai dengan karakteristik para perajin. Melalui praktik secara langsung, mereka dapat mempelajari penggunaannya tanpa bergantung pada komunikasi verbal yang kompleks,” jelasnya.
Langkah ini berdampak pada efisiensi produksi, bahkan teknologi tersebut mampu memperkuat kemandirian para perajin disabilitas sekaligus meningkatkan keterampilannya. “Harapan kami bukan hanya meningkatkan produktivitas Batik Wistara, tetapi juga memperkuat pemberdayaan penyandang disabilitas melalui pemanfaatan teknologi yang mudah diterapkan. Keberhasilan program ini bukan hanya diukur dari bertambahnya jumlah produksi batik, tetapi juga dari meningkatnya rasa percaya diri, keterampilan, dan kesempatan kerja bagi para penyandang disabilitas,” pungkas Nanang.
Untuk diketahui, rangkaian kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026. Upaya ini adalah salah satu peranan kampus berdampak, khususnya Universitas Hayam Wuruk Perbanas untuk hadir memberi solusi nyata atas permasalahan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat.

















