Bisnis  

Agrinas Palma Nusantara Kembangkan Sawit, Pangan, dan Bioenergi dari Mandat Kelola 4,1 Juta Hektare

Perusahaan menargetkan pembangunan kebun sawit 400.000 hektare, singkong 300.000 hektare, serta perkebunan jagung dan kedelai.

Sertifikatin 1

PT Agrinas Palma Nusantara (APN) menata ulang bisnisnya dengan mengembangkan sejumlah komoditas pertanian dan energi. Perusahaan pelat merah itu mendapat mandat mengelola lahan hasil penertiban kawasan hutan untuk mendukung percepatan swasembada pangan dan energi nasional.

Direktur Utama APN Mohammad Abdul Ghani mengatakan, perusahaan kini mengembangkan perkebunan sawit, jagung, kedelai, dan singkong sebagai lini bisnis utama. Pernyataan tersebut disampaikan di Jakarta, Kamis.

Transformasi bisnis dari perusahaan konstruksi

Menurut Abdul Ghani, APN merupakan hasil transformasi PT Indra Karya, perusahaan yang sebelumnya bergerak di bidang jasa konstruksi. Setelah ditunjuk sebagai direktur utama pada Maret 2026, ia menyebut perusahaan melakukan penataan ulang secara menyeluruh karena memperoleh penugasan pemerintah untuk mengembangkan komoditas pertanian.

Transformasi itu mencakup pembenahan struktur perusahaan dari sektor hulu hingga hilir. APN juga mengubah fokus bisnis agar pengelolaan komoditas pertanian dapat menjadi bagian dari upaya mencapai kemandirian pangan dan energi.

Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026, APN mendapat mandat mengelola lahan seluas 4,1 juta hektare. Lahan tersebut merupakan hasil penertiban yang dilakukan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan atau Satgas PKH.

Target kebun dan fasilitas energi

Dari lahan tersebut, perusahaan menetapkan sejumlah sasaran pengembangan. APN menargetkan pembangunan kebun sawit dengan luas 400.000 hektare serta reaktivasi pabrik biodiesel berkapasitas 600.000 ton per tahun.

Selain itu, perusahaan merencanakan pengembangan perkebunan singkong seluas 300.000 hektare. APN juga akan membangun dua pabrik bioetanol sebagai bagian dari pengembangan sektor energi berbasis komoditas pertanian.

Di sektor pangan, perusahaan menyiapkan perkebunan jagung seluas 250.000 hektare dan perkebunan kedelai seluas 400.000 hektare. Rangkaian target tersebut menjadi bagian dari lini bisnis APN yang mencakup produksi komoditas pangan sekaligus bahan baku energi.

Digitalisasi dan penguatan tata kelola

Untuk mempercepat pelaksanaan transformasi, APN menempuh beberapa langkah operasional. Salah satunya adalah melakukan verifikasi aset dengan memanfaatkan pemetaan udara. Perusahaan juga mengoptimalkan penjualan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) melalui mekanisme tender.

Selain pengelolaan aset dan penjualan, APN mendigitalisasi kegiatan pertanian serta memperkuat tata kelola perusahaan. Digital farming mulai diterapkan sejak Juli 2026 untuk mencatat produksi dan pengadaan barang secara elektronik.

Penerapan sistem tersebut menjadi bagian dari penataan proses bisnis APN, mulai dari pencatatan kegiatan pertanian hingga pengadaan. Dengan langkah itu, perusahaan mengarahkan transformasinya pada pengelolaan komoditas dan fasilitas pengolahan secara lebih terstruktur, sesuai penugasan pemerintah yang diterima.

Sumber: ANTARA News – Bisnis

Home Trending Kontak