Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) mendorong profesi akuntan publik memperkuat kompetensi teknologi seiring semakin berkembangnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam praktik audit dan assurance.
Presiden IAPI Tarkosunaryo mengatakan kesiapan profesi menghadapi perubahan teknologi tidak cukup diukur dari kemampuan menggunakan perangkat digital. Akuntan juga perlu memiliki kompetensi profesional, integritas, independensi, serta kemampuan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung jawab.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat. Menurut Tarkosunaryo, perkembangan AI dan teknologi digital harus diimbangi kesiapan sumber daya manusia agar penerapannya tetap sesuai dengan nilai-nilai dasar profesi serta kepentingan publik.
Kompetensi yang Dibutuhkan di Era AI
Penguatan kompetensi itu menjadi salah satu perhatian IAPI bersama School of Accounting BINUS University melalui Seminar Pre-Event dan Research Workshop CPA Days 2026 yang berlangsung di Tangerang, Banten.
Kegiatan tersebut mempertemukan organisasi profesi, regulator, akademisi, praktisi, mahasiswa, serta calon profesional. Forum ini membahas perubahan teknologi dan kebutuhan kompetensi baru dalam bidang audit dan akuntansi.
Sejumlah kemampuan yang dinilai semakin penting bagi calon profesional meliputi literasi teknologi, kemampuan analitis, pemahaman risiko, etika, serta kecakapan mengambil keputusan berdasarkan professional judgment. Kompetensi itu dibutuhkan agar teknologi dapat digunakan secara efektif tanpa mengurangi tanggung jawab profesional dalam proses audit dan assurance.
Selain membahas AI, forum CPA Days 2026 turut menyoroti meningkatnya kebutuhan terhadap sustainability assurance. Kebutuhan tersebut berkaitan dengan tuntutan para pemangku kepentingan terhadap informasi keberlanjutan yang kredibel dan dapat dipercaya.
Teknologi Tetap Harus Berada dalam Koridor Etika
Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Teknologi Audit Keuangan BINUS University, Prof. Rindang Widuri, mengatakan transformasi AI membuka peluang besar bagi perkembangan profesi akuntansi dan auditing.
Namun, menurut dia, kesiapan menghadapi masa depan tidak berhenti pada penguasaan teknologi. Profesional akuntansi juga perlu memahami risiko, menerapkan ethical judgment, serta memastikan penggunaan teknologi tetap berada dalam koridor tata kelola dan integritas profesional.
Pandangan tersebut menegaskan bahwa AI diposisikan sebagai bagian dari perkembangan praktik profesi, bukan pengganti tanggung jawab dan pertimbangan profesional akuntan. Karena itu, peningkatan kemampuan teknis perlu berjalan bersama penguatan etika dan pemahaman terhadap risiko.
Mendorong Kesiapan Generasi Muda
Melalui CPA Days 2026, IAPI dan BINUS University juga mendorong generasi muda mempersiapkan kompetensi serta nilai-nilai profesional yang relevan dengan perkembangan teknologi.
Pengalaman dan kepakaran BINUS University di bidang teknologi audit keuangan dan ilmu akuntansi menjadi landasan akademik dalam membahas pemanfaatan AI. Pembahasan tersebut diarahkan agar adopsi teknologi tetap mempertahankan profesionalisme dan integritas.
Selain menyiapkan calon profesional menghadapi perubahan teknologi, forum itu menekankan pentingnya kualitas audit dan assurance dalam menjaga kepercayaan publik. Dengan demikian, penguatan kompetensi akuntan mencakup aspek teknologi, analisis, etika, tata kelola, dan kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Sumber: ANTARA News – Finansial
