Berita  

Kemdiktisaintek Dorong 200 Kampus Percepat Transisi Net Zero Emission

Panduan Net Zero Campus diluncurkan untuk mendukung dekarbonisasi perguruan tinggi dan mengurangi beban pelaporan.

Sertifikatin 1

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi di Indonesia mempercepat transisi menuju emisi nol bersih atau Net Zero Emission. Langkah itu ditandai dengan peluncuran panduan dan analisis program Net Zero Campus di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta, Selasa.

Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco mengatakan keberlanjutan lingkungan menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi sekaligus pembangunan nasional. Menurut dia, agenda tersebut berkaitan dengan upaya mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045.

Badri menyebut sekitar 200 kampus telah terlibat dalam program Net Zero Campus. Sejumlah perguruan tinggi, kata dia, juga telah menjalankan kegiatan daur ulang dengan hasil yang dinilai baik.

Ia menambahkan, praktik daur ulang di beberapa kampus bahkan dinilai memiliki manfaat ekonomi. Biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan tersebut disebut lebih kecil dibandingkan uang yang diperoleh dari aktivitas ekonomi yang dijalankan di lingkungan kampus.

Diselaraskan dengan gerakan ASRI

Upaya membangun lingkungan kampus yang berkelanjutan juga diselaraskan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto melalui gerakan ASRI. Gerakan tersebut mencakup lingkungan yang Aman, Sehat, Rapi, dan Indah.

Selain mendorong penerapan program Net Zero Campus, Kemdiktisaintek telah menerbitkan Keputusan Mendiktisaintek Nomor 361 Tahun 2025 tentang Kampus Berdampak. Kebijakan itu menilai kontribusi perguruan tinggi melalui tiga dimensi, yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Badri berharap panduan Net Zero Campus dapat dihubungkan dengan sistem pelaporan yang telah berjalan. Integrasi juga diharapkan dapat dilakukan dengan berbagai pemeringkatan di tingkat global maupun nasional.

Menurut dia, penyelarasan tersebut penting agar penerapan program tidak menambah beban administratif bagi pimpinan perguruan tinggi. Dengan demikian, kampus dapat menjalankan agenda keberlanjutan tanpa harus menghadapi kewajiban pelaporan yang tumpang tindih.

Potensi 4.000 kampus

Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center Filda C. Yusgiantoro mengatakan sektor pendidikan tinggi memiliki potensi besar untuk menggerakkan dekarbonisasi secara mandiri. Potensi itu ditopang oleh keberadaan sekitar 4.000 kampus dan 11 juta sivitas akademika.

Filda menilai sektor pendidikan tinggi dapat memberikan kontribusi terhadap pencapaian target Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat. Ia berharap panduan Net Zero Campus menjadi acuan bagi kampus untuk mengembangkan aksi nyata dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Program Net Zero Campus, menurut Filda, pada awalnya dikembangkan oleh Climateworks Centre di perguruan tinggi Australia. Program tersebut dirancang untuk mendorong transformasi sektor pendidikan tinggi menuju sistem yang lebih ramah lingkungan.

Ia berharap penerapan panduan itu di Indonesia dapat menjadikan perguruan tinggi sebagai mitra percontohan sekaligus pelopor aksi mitigasi perubahan iklim di tingkat nasional. Dengan keterlibatan kampus dan sivitas akademika dalam jumlah besar, sektor pendidikan tinggi dipandang memiliki ruang untuk memperluas praktik keberlanjutan di lingkungan masing-masing.

Sumber: ANTARA News – Terkini

Home Trending Kontak