Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung proses verifikasi mitra penyelenggara dan peserta dalam program Magang Nasional atau MagangHub.
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi mengatakan, AI digunakan untuk menelaah informasi yang berkaitan dengan mitra, kuota magang, peserta, serta lowongan yang tersedia. Teknologi tersebut juga membantu mengidentifikasi pola pendaftaran yang dinilai tidak lazim dan perlu diperiksa lebih lanjut.
Pernyataan itu disampaikan Cris dalam keterangan yang diterima di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Rabu. Ia menjelaskan, penggunaan AI diperlukan karena Magang Nasional melibatkan mitra penyelenggara, lowongan, dan peserta dalam jumlah besar.
Verifikasi mitra dan kewajaran kuota
Dalam proses verifikasi mitra penyelenggara, AI membantu Kemnaker menelaah keterkaitan antarkelompok perusahaan. Analisis tersebut mencakup kemungkinan adanya sejumlah perusahaan yang berada di bawah kendali satu operator.
Selain itu, teknologi tersebut digunakan untuk menilai bonafiditas perusahaan dan kewajaran kuota yang diajukan. Penilaian dilakukan dengan membandingkan kuota yang diusulkan dengan kapasitas masing-masing perusahaan.
“AI kita manfaatkan untuk membantu melihat apakah ada kelompok perusahaan yang berada dalam kendali satu operator,” ujar Cris.
Menurut dia, pemeriksaan juga mempertimbangkan apakah kuota yang diajukan masih sebanding dengan kapasitas perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian, hasil analisis dapat menjadi bagian dari bahan pemeriksaan terhadap mitra penyelenggara.
Menelaah pola pendaftaran peserta
Pada tahap seleksi peserta, AI digunakan untuk menganalisis data pendaftar dan informasi lowongan. Kemnaker menelaah beberapa aspek, antara lain sebaran peserta, asal wilayah, serta kesesuaian program studi dengan lowongan yang tersedia.
Analisis itu ditujukan untuk menemukan pola yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Contohnya, peserta pada suatu perusahaan dapat terlihat terkonsentrasi dari alumni kampus tertentu, mayoritas berasal dari luar wilayah perusahaan, atau memiliki program studi yang tidak sesuai dengan persyaratan lowongan.
“Dalam seleksi peserta, AI juga membantu kita melihat pola-pola yang tidak lazim,” kata Cris.
Ia menyebutkan, temuan mengenai pola tersebut tidak langsung menjadi keputusan akhir. Informasi dari analisis AI akan ditelaah melalui proses pemeriksaan sesuai mekanisme yang berlaku.
AI bukan pengganti pemeriksaan
Cris menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam MagangHub tidak dimaksudkan untuk menggantikan proses verifikasi dan pemeriksaan. Teknologi ini berfungsi membantu mengolah dan membaca pola dari kumpulan informasi yang besar.
Analisis berbasis AI diharapkan dapat membantu Kemnaker menemukan keterkaitan atau pola tertentu dalam data mitra, lowongan, dan peserta. Setelah itu, temuan tersebut menjadi bahan bagi pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak terkait.
“Hasil analisis AI menjadi salah satu bahan bagi proses pemeriksaan sesuai mekanisme yang berlaku,” ujar Cris.
Dengan pendekatan tersebut, Kemnaker menempatkan AI sebagai alat pendukung dalam pelaksanaan program Magang Nasional. Keputusan verifikasi dan pemeriksaan tetap dilakukan melalui mekanisme yang berlaku, sementara teknologi dimanfaatkan untuk membantu menelaah data dalam skala besar.
Sumber: ANTARA News – Terkini
