Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM – Di tengah derasnya arus informasi digital yang tak terbendung, media sosial kini menjadi ruang yang dapat menghadirkan manfaat sekaligus ancaman. Menyadari hal tersebut, Badan Penanggulangan Terorisme dan Ekstremisme (BPTE) MUI Jawa Timur bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur menggelar Dialog Damai bertajuk “Bijak Bermedia Sosial untuk Cegah Radikalisme” di Kantor MUI Provinsi Jawa Timur, Jumat (12/6/2026).
Kegiatan yang menghadirkan tokoh agama, akademisi, pegiat media sosial, hingga organisasi kemasyarakatan itu menjadi momentum penting untuk memperkuat literasi digital masyarakat sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikal dan ekstrem melalui dunia maya.
Ketua FKPT Jawa Timur, Prof. Dr. Hj. Husniyatus Salamah Zainiyati, M.Ag., menegaskan bahwa menjaga ruang digital tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Menurutnya, diperlukan kolaborasi seluruh elemen bangsa agar media sosial menjadi sarana yang sehat, aman, dan produktif bagi masyarakat.
“Ruang digital harus menjadi tempat tumbuhnya pengetahuan, toleransi, dan semangat kebangsaan, bukan justru menjadi lahan subur bagi penyebaran kebencian dan radikalisme,” ujarnya.
Senada dengan itu, Sekretaris Umum MUI Jawa Timur, Dr. KH. Hasan Ubaidillah, M.H.I., mengingatkan bahwa media sosial dapat menjadi sarana dakwah yang efektif apabila digunakan secara bijak. Ia mengajak masyarakat untuk memanfaatkan platform digital dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang moderat, damai, dan rahmatan lil alamin.
Pembukaan resmi dilakukan oleh Ketua MUI Jawa Timur Bidang Sosial dan Budaya, Prof. Dr. KH. Ahmad Muhibbin Zuhri, M.Ag. Ia menilai sinergi antara lembaga keagamaan, pemerintah, akademisi, dan masyarakat merupakan langkah strategis dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam sesi dialog, peserta mendapatkan wawasan mengenai tantangan dan peluang media sosial di era digital. Narasumber dari FKPT Jawa Timur, Prof. Dr. Mutimmatul Faidah, S.Ag., M.A., menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat mampu berpikir kritis dalam menerima informasi dan tidak mudah terpengaruh konten provokatif maupun propaganda yang berpotensi mengarah pada radikalisme.
Sementara itu, Ketua BPTE MUI Jawa Timur, Dr. H. Syarif Thayib, S.Ag., M.Si., mengingatkan bahwa berita yang belum terverifikasi dapat menjadi pintu masuk penyebaran intoleransi dan ekstremisme.
Menurutnya, kemampuan memeriksa kebenaran informasi menjadi salah satu benteng utama dalam menjaga persatuan bangsa di tengah derasnya banjir informasi digital.
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Dai Kamtibmas Polda Jawa Timur itu turut menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam membangun ruang digital yang sehat. Ia mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda.
“Masjid harus menjadi ruang yang nyaman bagi anak-anak muda untuk belajar, berkarya, berdiskusi, dan mengembangkan kemampuan bermedia sosial secara positif serta bertanggung jawab,” katanya.
Dialog berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai persoalan mulai dari hoaks, ujaran kebencian, hingga tantangan menjaga etika di media sosial menjadi topik yang banyak dibahas peserta. Dalam diskusi tersebut juga mengemuka pentingnya peran keluarga, sekolah, organisasi keagamaan, dan masyarakat dalam membangun budaya digital yang sehat dan beradab.
Melalui kegiatan ini, BPTE MUI Jawa Timur dan FKPT Jawa Timur berharap masyarakat tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga menjadi agen perdamaian yang aktif menyebarkan pesan toleransi, moderasi, dan persatuan bangsa.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, sikap kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial dinilai menjadi kunci untuk menjaga Indonesia tetap damai serta terbebas dari pengaruh radikalisme dan ekstremisme.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama sebagai ikhtiar menjaga persatuan bangsa sekaligus mewujudkan ruang digital Indonesia yang aman, damai, dan penuh semangat kebangsaan.
