PT Pupuk Indonesia menyatakan komitmennya mendukung pengembangan teknologi dekarbonisasi sebagai bagian dari transformasi industri pupuk yang lebih berkelanjutan. Komitmen tersebut disampaikan seiring hasil proyek percontohan Carbon Capture and Utilization (CCU) di Petrokimia Gresik yang dinilai membuka peluang penerapan teknologi menuju skala komersial.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Perindustrian (Kemenperin) atas dukungan dan arahan dalam pengembangan teknologi CCU. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
“Kami berkomitmen untuk terus mendukung upaya dekarbonisasi,” ujar Rahmad.
Menurut Rahmad, proyek percontohan di Petrokimia Gresik telah memberikan pembuktian konsep atau proof of concept. Hasil tersebut menjadi dasar untuk mempertimbangkan pengembangan teknologi ke tahap berikutnya, termasuk kemungkinan penerapan pada skala komersial.
Namun, pengembangan tersebut akan dilakukan dengan memperhatikan hasil evaluasi teknologi dan kelayakan ekonomi. Pertimbangan itu diperlukan agar penerapan CCU dapat memberikan manfaat yang optimal bagi industri.
Kolaborasi pengembangan teknologi CCU
Proyek percontohan CCU di Petrokimia Gresik merupakan kolaborasi Kemenperin, Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik, dan UWin Resources Regeneration Inc. Inisiatif tersebut diarahkan untuk mengembangkan teknologi pengurangan emisi sekaligus menciptakan peluang peningkatan nilai ekonomi melalui pemanfaatan karbon dari proses industri.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji sebelumnya menyebut Petrokimia Gresik berpotensi menjadi pionir penerapan teknologi CCU di Indonesia. Ia menyampaikan pernyataan itu saat meninjau perkembangan proyek percontohan di Gresik, Jawa Timur, pada Jumat, 16 Oktober.
Sarmuji menilai proyek tersebut merupakan langkah penting dalam pengembangan industri hijau nasional. Menurut dia, teknologi yang dikembangkan di Petrokimia Gresik diharapkan dapat membuka peluang penerapan lebih luas di sektor industri lainnya.
“Ini akan menjadi sejarah bagi Petrokimia Gresik sebagai industri yang menjadi pionir bagi penerapan Carbon Capture and Utilization,” kata Sarmuji.
Sejalan dengan agenda keberlanjutan perusahaan
Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob mengatakan keterlibatan perusahaan dalam proyek percontohan CCU sejalan dengan berbagai upaya keberlanjutan yang telah dijalankan. Ia menilai pengembangan industri ramah lingkungan perlu ditopang inovasi dan peningkatan efisiensi secara berkelanjutan.
Petrokimia Gresik, kata Daconi, berkomitmen menerapkan prinsip keberlanjutan dalam operasional melalui efisiensi, inovasi, dan pengelolaan lingkungan. Komitmen itu diwujudkan, antara lain, dengan menjadikan perusahaan sebagai lokasi proyek percontohan CCU bersama Kemenperin dan UWin Resources Regeneration Inc.
Daconi berharap kolaborasi tersebut dapat mendorong terbentuknya industri nasional yang lebih ramah lingkungan dan berdaya saing.
Roadmap dekarbonisasi hingga 2060
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Petrokimia Gresik memiliki roadmap dekarbonisasi untuk mendukung target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 dan Net Zero Emission (NZE) 2060.
Hingga 2025, perusahaan mencatat pengurangan emisi gas rumah kaca hampir 400 ribu ton setara karbon dioksida atau CO₂e. Pengurangan itu dicapai melalui berbagai program dekarbonisasi yang telah dijalankan perusahaan.
Dengan hasil proyek percontohan yang telah menunjukkan pembuktian konsep, pengembangan CCU selanjutnya akan bergantung pada evaluasi teknologi dan kelayakan ekonomi. Kedua aspek tersebut menjadi pertimbangan utama sebelum teknologi dikembangkan menuju penerapan komersial.
Sumber: ANTARA News – Bisnis


















