Bisnis  

Rupiah Melemah ke Rp17.981 per Dolar AS, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober diperkirakan mencapai 70 persen berdasarkan CME FedWatch.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Selasa. Rupiah turun 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.981 per dolar AS, dari penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.978 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan pergerakan tersebut dipengaruhi meningkatnya potensi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed. Ekspektasi itu muncul di tengah tingginya harga minyak dan setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga pada pertemuan 15-16 September.

Menurut Ibrahim, kenaikan sebesar 25 basis poin tersebut merupakan peningkatan suku bunga pertama The Fed dalam tiga tahun terakhir. Kondisi itu membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan adanya kenaikan lanjutan dalam waktu dekat.

Pasar menanti keputusan The Fed

Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober diperkirakan mencapai 70 persen. Perkiraan tersebut menguat setelah sejumlah pejabat The Fed menyampaikan pernyataan bernada hawkish pada pekan sebelumnya.

Sikap hawkish merujuk pada kecenderungan mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat, termasuk melalui suku bunga yang lebih tinggi. Bagi pasar valuta asing, ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi permintaan terhadap dolar AS dan pergerakan mata uang, termasuk rupiah.

Selain menunggu keputusan kebijakan, pelaku pasar akan mencermati rangkaian agenda ekonomi AS yang cukup padat pada pekan ini. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan terbit pada Rabu, 30 September. Sehari setelahnya, pasar akan menunggu data ISM Manufacturing PMI pada Kamis, 1 Oktober.

Laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) kemudian dijadwalkan dirilis pada Jumat, 2 Oktober. Data-data tersebut akan menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi AS serta arah kebijakan bank sentral berikutnya.

Pernyataan pejabat dan isu geopolitik

Komentar dari para pejabat The Fed juga akan terus dipantau. Pernyataan tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai langkah kebijakan bank sentral AS selanjutnya, khususnya terkait kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober.

Selain faktor moneter AS, sentimen pasar turut dipengaruhi potensi pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran. Pembicaraan itu disebut menjadi bagian dari upaya mengakhiri perang dan diperkirakan membahas versi revisi proposal tujuh hari yang diajukan Iran pada pekan sebelumnya, di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ibrahim menjelaskan, proposal tersebut mencakup penghentian seluruh permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran senilai miliaran dolar, penghentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran.

Perkembangan pembicaraan itu menjadi salah satu isu yang diperhatikan pelaku pasar karena berkaitan dengan konflik, sanksi, dan pasokan minyak. Namun, materi sumber tidak menjelaskan dampak pasti dari kemungkinan pembicaraan tersebut terhadap nilai tukar rupiah.

JISDOR ikut melemah

Pelemahan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Selasa, JISDOR berada di level Rp17.998 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya sebesar Rp17.965 per dolar AS.

Dengan demikian, dua indikator kurs yang disebutkan dalam laporan tersebut sama-sama menunjukkan pelemahan rupiah. Kurs pasar spot ditutup di Rp17.981 per dolar AS, sedangkan JISDOR Bank Indonesia tercatat lebih tinggi di level Rp17.998 per dolar AS.

Sumber: ANTARA News – Finansial

Home Trending Kontak
Exit mobile version