Bisnis  

Rupiah Melemah ke Rp17.997 per Dolar AS akibat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Fed

Analis memperkirakan tekanan berlanjut seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penantian data pekerjaan Jolts.

JAKARTA — Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Selasa. Rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp17.997 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.978 per dolar AS.

Analis Doo Financial Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah terutama dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed. Menurut dia, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menjadi faktor yang membuat mata uang Indonesia masih rentan tertekan.

“Rupiah diperkirakan masih tertekan terhadap dolar AS oleh ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat,” kata Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Pasar memperkirakan kenaikan bunga The Fed

Ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS semakin menguat di pasar. Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 70 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28 Oktober.

Perkiraan tersebut muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga pada 16 September. Kenaikan itu merupakan yang pertama dilakukan bank sentral AS sejak 2023, sehingga suku bunga berada dalam kisaran 3,75 persen hingga 4 persen.

Mengutip Xinhua, pasar menilai terdapat kemungkinan peningkatan pengetatan kebijakan lebih lanjut oleh Federal Reserve. Perubahan ekspektasi tersebut mendorong perhatian investor terhadap arah kebijakan suku bunga AS dan dampaknya terhadap pergerakan dolar.

Lukman juga mengaitkan meningkatnya ekspektasi tersebut dengan sikap Presiden AS Donald Trump yang menolak proposal terbaru Iran dalam negosiasi tidak langsung di New York pada pekan ini, sebagaimana diberitakan Anadolu.

Investor menanti data pekerjaan AS

Dalam proposalnya, Teheran mengusulkan pembukaan kembali jalur perairan strategis dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dalam waktu satu minggu. Sebagai imbalannya, Iran mengajukan pencabutan blokade angkatan laut oleh Washington, penghapusan sanksi atas penjualan minyak Iran, serta pemulihan gencatan senjata di seluruh kawasan.

Namun, Amerika Serikat disebut sedang mempertimbangkan serangan baru setelah pemilihan umum sela di AS pada November 2026. Perkembangan tersebut menjadi salah satu perhatian pasar ketika investor menilai risiko geopolitik dan implikasinya terhadap kebijakan ekonomi.

Selain mencermati arah kebijakan The Fed, pelaku pasar pada Selasa juga menunggu rilis data pekerjaan Amerika Serikat, yakni Job Openings and Labor Turnover Survey atau Jolts. Data tersebut dijadwalkan terbit pada malam hari.

Lukman mengatakan investor cenderung berhati-hati karena pekan ini diwarnai sejumlah rilis data dari negara-negara dengan perekonomian penting. Berdasarkan perkiraan yang dikutip dalam laporan tersebut, jumlah lowongan pekerjaan AS pada data Jolts diproyeksikan mencapai 7,24 juta, sedikit lebih rendah dibandingkan 7,27 juta pada bulan sebelumnya.

Hasil data pekerjaan itu akan menjadi salah satu informasi yang diperhatikan pelaku pasar dalam membaca kondisi pasar tenaga kerja AS. Bagi pasar valuta asing, data ekonomi Amerika dapat memengaruhi penilaian terhadap prospek suku bunga The Fed dan, selanjutnya, arah pergerakan dolar AS terhadap rupiah.

Sumber: ANTARA News – Finansial

Home Trending Kontak
Exit mobile version