Produk UMKM “Paling Digemari” Maret–Juli 2026: Bukan Sekadar Viral, Tapi Soal Data, Musim, dan Strategi

Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM – Saya sering bertemu dua tipe orang saat membahas “produk UMKM yang paling digemari”: tipe pertama percaya pada satu indikator (misalnya “yang paling laris”), tipe kedua percaya pada “yang paling ramai dibicarakan” (viral). Dua-duanya sering salah bukan karena niatnya, tapi karena data kita tercerai-berai dan definisinya belum rapi.

Yang bisa kita lakukan secara bertanggung jawab adalah menyiapkan kerangka baca tren yang realistis: memanfaatkan data resmi yang sifatnya agregat, “sinyal” dari platform (marketplace dan social commerce), plus indikator minat pencarian seperti Google Trends dengan memahami keterbatasannya. 

Kabar baiknya: kita sudah punya petunjuk yang cukup untuk menyusun strategi. Statistik E-Commerce 2024 menegaskan bahwa publikasi tahunan ini memuat profil usaha, aktivitas, dan nilai transaksi e-commerce selama 2024, serta analisis yang disajikan sebagai perkiraan tingkat provinsi ini penting sebagai “peta besar”, walau belum bisa menjawab top-SKU bulanan. 
Di sisi lain, sumber platform dan media menunjukkan pola musiman yang terlihat jelas (contoh Ramadan 2025): ada kategori-kategori yang konsisten “naik daun” dan bisa kita jadikan hipotesis untuk Maret–April 2026, sambil tetap siap dengan kejutan demand. 

Membaca “paling digemari” tanpa terjebak angka semu

Untuk UMKM, “digemari” yang paling masuk akal itu gabungan minimal empat hal:

  • Volume: berapa unit terjual (ini mengukur penerimaan pasar).
  • Nilai transaksi: berapa rupiah yang berputar (ini mengukur daya belanja dan kontribusi omzet).
  • Pertumbuhan: naik/turun dari bulan ke bulan (MoM) dan dibanding tahun lalu (YoY), untuk melihat mana yang sekadar “musiman” dan mana yang benar-benar bertumbuh.
  • Sentimen pelanggan: rating dan isi ulasan (produk laris tapi rating jeblok itu laris “yang sebentar”).

Lalu ada satu indikator yang sering dipakai tapi sering disalahpahami: minat pencarian (Google Trends). Ini berguna untuk membaca permintaan, tapi perlu dicatat:

  • Google Trends memakai sampel penelusuran (bukan seluruh data), dan hasilnya adalah popularitas relatif yang dinormalisasi per wilayah dan periode. 
  • Skala 0–100 itu bukan “jumlah transaksi”, melainkan hasil penskalaan setelah pembagian terhadap total penelusuran di wilayah/periode tersebut. 
  • Google Trends sendiri menegaskan bahwa data ini bukan polling ilmiah dan sebaiknya diperlakukan sebagai salah satu titik data, bukan “vonis”. 

Pijakan data: apa yang tersedia dari Badan Pusat Statistik dan pemerintah

Kita perlu mengakui realitas ekosistem data UMKM: data resmi kuat di agregat, data platform kuat di granularitas (SKU), tapi tidak selalu terbuka.

Dari sisi statistik resmi, Badan Pusat Statistik menerbitkan laporan tahunan seperti Statistik E-Commerce 2024 dan juga Statistik E-Commerce 2023. Di halaman publikasi, BPS menyebut bahwa data yang disajikan mencakup profil usaha, aktivitas, serta nilai transaksi (untuk tahun yang dilaporkan), dan tabulasi/analisisnya disajikan sebagai perkiraan di tingkat provinsi. Ini memberi “kerangka nasional-provinsi”, tapi tidak cukup untuk menyusun “top-10 produk UMKM per bulan per kota” seperti yang sering diminta publik. 

Dari sisi pemerintah sektor UMKM, ada narasi kuat soal percepatan digitalisasi. Misalnya, pemberitaan yang mengutip Kementerian Koperasi dan UKM menyebut bahwa hingga Juli 2024 tercatat 25,5 juta UMKM masuk ekosistem digital, dan dalam konteks QRIS disebut ada 32 juta merchant terdaftar sebagai pengguna QRIS dengan 95% pelaku UMKM (klaim dalam konferensi pers yang dilaporkan). 

Buat saya, ini dua pesan penting:

Pertama, digitalisasi makin besar skalanya, jadi peluang produk UMKM “digemari” itu makin terbuka karena pasar makin luas. 
Kedua, kalau skala digital makin besar, kebutuhan kita akan metodologi yang rapi juga makin besar, supaya “paling digemari” tidak jadi sekadar slogan.

Sinyal platform: pelajaran paling praktis dari Ramadan 2025

Di lapangan, momen musiman itu “mesin penggerak” permintaan. Untuk konteks Maret 2026, yang paling dekat adalah pola awal Ramadan (yang pada 2025 jatuh di awal Maret, dan tren belanja awal Ramadan menjadi sorotan berbagai sumber). 

Beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari sinyal 2025 (sebagai hipotesis kerja—bukan prediksi pasti 2026):

  • Pada jelang Ramadan 2025, beberapa sumber yang mengutip data internal platform menyebut daging menonjol sebagai produk laris di platform tertentu, sementara camilan seperti kurma menonjol di kanal lain; ini muncul dalam konteks kampanye dan tren belanja. 
  • Tokopedia dan ekosistem social commerce juga memunculkan pola waktu belanja yang unik: untuk Ramadan 2025, disebutkan bahwa saat sahur menjadi waktu belanja yang sangat digemari, dengan klaim nilai transaksi naik rata-rata 10,5 kali lipat pada momen sahur (berdasarkan catatan perilaku belanja pekan pertama Ramadan 1–6 Maret 2025). 
  • Untuk kategori kecantikan dan perawatan diri, ada laporan bahwa selama Ramadan 2025 terjadi kenaikan penjualan signifikan untuk item seperti make up, parfum, dan skin care, dan disebut pula beberapa wilayah dengan lonjakan transaksi yang lebih tinggi pada kategori tersebut (berdasarkan rilis yang dikutip media). 

Buat UMKM, ini intinya begini: pasar bukan cuma memilih “produk”, tapi juga memilih momentum (waktu), kanal (marketplace vs social commerce), dan konteks kebutuhan (bahan pokok, fashion, kecantikan, rumah tangga, elektronik penunjang konten).

Rekomendasi praktis untuk UMKM dan pemerintah daerah

Untuk pelaku UMKM

Kalau Anda ingin “produk Anda digemari” pada Maret–Juli 2026, ini saran yang realistis (bukan motivasi doang):

Pertama, perlakukan Ramadan dan promo besar sebagai uji ketahanan operasional, bukan sekadar uji kreativitas konten. Data 2025 menunjukkan momen tertentu bisa mengerek transaksi secara signifikan pada jam-jam yang tidak biasa, seperti sahur. Artinya, stok, admin, dan layanan harus siap di pola waktu baru—bukan hanya siap “diskon”. 

Kedua, jangan cuma mengejar produk “yang ramai dicari”, tetapi produk “yang repeatable”. Dari tren awal Ramadan 2025, terlihat bahwa yang dicari bukan cuma makanan; ada juga rumah tangga, fashion, kecantikan, dan elektronik penunjang konten. UMKM bisa membuat strategi portofolio: 1–2 SKU pancingan (volume), 1 SKU margin (bundling/varian premium), 1 SKU musiman (hampers/fashion muslim), dan 1 SKU evergreen (kebutuhan rutin). 

Ketiga, jadikan sentimen sebagai KPI. Rating 4,9 itu tidak muncul dari “caption bagus”, tapi dari: kemasan aman, pengiriman rapi, komunikasi jelas, dan produk sesuai deskripsi. Ini hal kecil yang sering mengubah “sekali beli” menjadi “langganan”.

Keempat, pakai Google Trends sebagai radar, bukan hakim. Google Trends dinormalisasi dan merupakan sampel; ia bagus untuk membaca momentum kata kunci lintas wilayah, tapi jangan disamakan dengan omzet. Cocok untuk memutuskan: kata kunci iklan, judul produk, ide konten, dan kapan mulai stok. 

Untuk pemerintah daerah

Kalau pemerintah daerah betul-betul ingin mendorong UMKM naik kelas, saya punya satu usulan yang tidak seksi tapi dampaknya besar: bantu UMKM menang dalam “perang data sederhana”.

BPS sudah menyiapkan pijakan agregat e-commerce tahunan dan estimasi provinsi ini berguna untuk melihat peta besar. 
Tapi untuk level kabupaten/kota dan SKU, yang paling mungkin adalah kerja sama agregasi data yang aman (anonim) dengan platform, lalu pemerintah daerah fokus pada:

  • pelatihan berbasis kategori unggulan daerah (bukan pelatihan generik),
  • dukungan kemasan dan sertifikasi untuk pangan/kosmetik,
  • intervensi logistik (hub konsolidasi) agar rating dan repeat order UMKM naik.

Kalau datanya rapih, promosi daerah juga lebih tepat: bukan sekadar “ayo beli produk lokal”, tapi “ini top kategori yang terbukti naik 3 bulan terakhir”.

OPINI : ARI PRABOWO, Pegiat UMKM Nasional | Mentor | Trainer | Pemilik Usaha Lebih Dari 20 Tahun

Need Help? Chat with us