Warung Roekoen di kawasan Kramat, Jakarta Pusat, menawarkan pengalaman bersantap dengan suasana yang berbeda. Pengunjung tidak hanya disuguhi masakan rumahan, tetapi juga diajak menikmati rumah berusia lebih dari satu abad yang masih mempertahankan ornamen serta koleksi warisan keluarga keturunan Tionghoa.
Dari luar, bangunan tersebut tampak seperti rumah lama. Namun, nuansa klasik segera terasa setelah pengunjung memasuki area warung. Interiornya memadukan unsur budaya Tiongkok dengan sedikit sentuhan Eropa, dilengkapi benda-benda antik dan dekorasi bergaya vintage.
Nama Warung Roekoen berasal dari gabungan kata “Roemah Koenoe”, yang berarti rumah kuno. Nama itu menggambarkan karakter tempat yang hingga kini menjaga atmosfer nostalgia melalui bangunan dan berbagai benda lama di dalamnya.
Berawal dari kebutuhan penghuni kos
Warung Roekoen didirikan secara resmi pada 29 April 2024 oleh Dade, 62 tahun, bersama istrinya. Keduanya merupakan keturunan Tionghoa. Namun, pemanfaatan bangunan tersebut telah bermula sebelum warung dibuka, ketika Dade menjadikannya sebagai kos-kosan khusus perempuan bernama Koes Roekoen.
Ide membuka warung muncul karena para penghuni kos kerap mencari camilan. Pada tahap awal, warung yang berada di bawah bangunan kos itu hanya diperuntukkan bagi penghuni dan menyediakan masakan rumahan serta makanan ringan.
“Anak-anak perempuan ini kan biasanya suka ngemil, jadi saya pikir kenapa tidak dibuat warung di bawahnya,” kata Dade saat ditemui pada Sabtu (15/8), sebagaimana dikutip dalam materi sumber.
Seiring waktu, masyarakat dari luar lingkungan kos mulai berdatangan. Mereka tertarik bukan hanya pada makanan, tetapi juga pada suasana rumah lama yang dipertahankan. Dari konsep sederhana untuk memenuhi kebutuhan penghuni kos, Warung Roekoen kemudian berkembang menjadi tempat makan yang terbuka bagi masyarakat umum.
Rumah keluarga dan koleksi warisan
Bangunan yang kini digunakan sebagai ruang makan merupakan peninggalan keluarga istri Dade. Rumah itu dibangun oleh kakek sang istri dan telah berusia lebih dari 100 tahun. Karakter lama bangunan sengaja dipertahankan, bukan dibuat baru agar terlihat tua.
Di sejumlah sudut ruangan, pengunjung dapat menemukan guci, keramik, porselen, piring, lukisan, lampion, serta kuplet. Sebagian besar koleksi tersebut berasal dari keluarga Dade dan keluarga istrinya. Sebagian lainnya merupakan pemberian anggota keluarga atau barang yang dibeli Dade.
Kumpulan benda itu memperkuat nuansa Tionghoa sekaligus menjadi bagian dari cerita keluarga yang melekat pada rumah tersebut. Meski memiliki karakter budaya yang kuat, Warung Roekoen tetap terbuka untuk pengunjung dari berbagai latar belakang.
Masakan rumahan dan ruang untuk berfoto
Konsep kuliner Warung Roekoen juga dirancang untuk menghadirkan rasa nostalgia. Dade memilih menu yang dekat dengan makanan sehari-hari dan pernah disantapnya sejak kecil, bukan hidangan mewah.
Pilihan yang tersedia antara lain nasi uduk, nasi ulam, lontong, mi keriting bakso pangsit lada hitam, nasi goreng kampung dadar, dimsum, pempek, tempe mendoan, donat, serta roti bakar. Minumannya mencakup es kopi gula aren, aneka jus, es teh susu, dan es bunga telang jeruk soda. Harga makanan dan minuman disebut sekitar Rp30.000 per menu.
Menurut Dade, makanan sederhana itu diharapkan membuat pengunjung merasa nyaman seperti sedang makan di rumah sendiri. Warung tersebut disebut ramai, terutama pada akhir pekan dan hari libur.
Selain makan, pengunjung datang untuk menikmati interior dan berfoto. Dian, 32 tahun, yang berkunjung bersama keluarganya, menilai suasana klasik dan vintage di tempat itu cocok untuk menghabiskan akhir pekan serta mengabadikan momen.
Jumlah pengunjung dapat meningkat saat perayaan seperti Imlek. Sebagian pengunjung membawa properti dan busana sendiri, termasuk cheongsam, kipas lipat, serta lampion kecil.
Warung Roekoen juga mengizinkan kegiatan foto tahunan sekolah, pre-wedding, atau ulang tahun tanpa biaya sewa tempat. Pengunjung hanya perlu memesan makanan dan minuman. Untuk acara khusus, kegiatan biasanya dilakukan sekitar pukul 09.00 sebelum warung ramai dan dibuka bagi pengunjung umum.
Dalam operasionalnya, Dade menekankan kebersihan dan keramahan pelayanan. Para pekerja berasal dari berbagai lingkungan, termasuk pesantren milik keluarga Dade dan masyarakat sekitar.
Dengan demikian, rumah warisan keluarga tersebut terus memperoleh fungsi baru. Setelah pernah digunakan sebagai rumah keluarga dan kos, bangunan itu kini menjadi warung makan yang tetap mempertahankan jejak budaya Tionghoa serta kenangan lintas generasi.
Sumber: ANTARA News – Terkini

















