Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN Wihaji menilai generasi Z perlu dibekali kesiapan menghadapi kehidupan secara menyeluruh. Menurut dia, persiapan tersebut tidak cukup hanya diarahkan agar anak muda siap memasuki dunia kerja.
Pandangan itu disampaikan Wihaji di Jakarta, Senin, saat menjelaskan penyelenggaraan Program Siap Impact yang digagas Kemendukbangga/BKKBN. Program tersebut ditujukan terutama bagi remaja dan lulusan perguruan tinggi atau sarjana agar lebih siap menghadapi masa setelah kuliah, termasuk ketika memasuki pekerjaan dan tahapan kehidupan berikutnya.
Lima tahapan kesiapan hidup
Wihaji mengatakan mahasiswa tingkat akhir perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi beragam fase kehidupan. Tahapan itu mencakup pendidikan, pekerjaan, keluarga, serta kehidupan bermasyarakat.
Ia juga memaparkan lima aspek yang perlu dipersiapkan generasi muda, yaitu menjaga kesehatan, melanjutkan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan sosial di tengah masyarakat.
Menurut Wihaji, pekerjaan hanyalah salah satu bagian dari siklus kehidupan. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia tidak semestinya hanya diukur dari kemampuan menyerap tenaga kerja, tetapi juga dari kesiapan individu menjalani berbagai peran dalam kehidupannya.
Kebutuhan tersebut, kata dia, semakin penting jika melihat komposisi penduduk Indonesia. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik, penduduk berusia 15-64 tahun mencapai sekitar 196 juta jiwa atau sekitar 68 persen dari total 284 juta penduduk Indonesia.
Wihaji menyebut kesiapan hidup sebagai kebutuhan utama ketika masa depan negara dibicarakan. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar, pembekalan generasi muda dinilai perlu mencakup kemampuan personal dan sosial, bukan hanya kompetensi untuk memperoleh pekerjaan.
Teknologi dan nilai kemanusiaan
Wihaji turut menyoroti karakter generasi Z yang berkembang dalam situasi perubahan teknologi dan akses informasi yang cepat. Menurut dia, kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan nilai kemanusiaan, integritas, serta fungsi sosial seseorang.
Ia menyampaikan bahwa pelaku industri membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki integritas, kejujuran, dan etos kerja tinggi. Namun, tuntutan tersebut menurutnya perlu diimbangi dengan perhatian terhadap harapan generasi muda agar hubungan kerja dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Wihaji mengingatkan bahwa dorongan untuk meningkatkan etos kerja tidak akan efektif apabila harapan anak muda tidak diperhatikan. Ia menilai kondisi tersebut dapat membuat pekerja muda memilih meninggalkan pekerjaannya.
Kolaborasi melalui Program Siap Impact
Program Siap Impact dirancang untuk mempertemukan mahasiswa tingkat akhir, perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku industri. Kemendukbangga/BKKBN menjadikan kolaborasi lintas sektor itu sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang lebih siap menghadapi kehidupan.
Kegiatan tersebut sebelumnya telah diikuti 893 mahasiswa semester akhir. Wihaji menegaskan program itu tidak seharusnya berhenti sebagai forum pertemuan, tetapi perlu dilanjutkan dengan tindak lanjut dan kepastian bagi peserta, termasuk melalui keterlibatan industri.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat membantu mahasiswa memperoleh bekal yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Di sisi lain, kolaborasi itu diharapkan memberi industri akses terhadap sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dengan pendekatan tersebut, kesiapan generasi Z dipandang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mendapatkan pekerjaan, tetapi juga kesehatan, pendidikan, keluarga, integritas, serta kemampuan menjalankan kehidupan sosial di masyarakat.
Sumber: ANTARA News – Terkini

















