Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menekankan pentingnya meneruskan warisan kebijakan yang telah dibangun para pendahulu dalam pengelolaan sektor energi Indonesia. Menurut dia, kebijakan tersebut menjadi fondasi untuk menghadapi kebutuhan energi nasional dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Pesan itu disampaikan Yuliot saat berziarah ke makam para Menteri Pertambangan dan Energi Republik Indonesia di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-81.
Mengenang kontribusi para pendahulu
Yuliot mengatakan ziarah tersebut menjadi momentum untuk mengenang kontribusi para mantan menteri sekaligus meninjau kesinambungan kebijakan yang telah dibangun di sektor energi. Ia menyebut masih terdapat pekerjaan dari para pendahulu yang perlu dilanjutkan oleh generasi saat ini.
“Dari menteri-menteri tersebut, cukup banyak yang meninggalkan warisan dan juga pekerjaan-pekerjaan yang perlu diteruskan,” kata Yuliot dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan, perkembangan sektor pertambangan dan energi di Indonesia berlangsung secara bertahap. Pengelolaan sektor itu pada awalnya bertumpu pada minyak dan gas bumi atau migas, kemudian berkembang mencakup batu bara hingga mineral.
Menurut Yuliot, setiap menteri memiliki kontribusi dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan sesuai tantangan pada masa masing-masing. Karena itu, perjalanan sektor energi saat ini tidak terlepas dari fondasi yang dibangun oleh para pejabat sebelumnya.
Tiga warisan kebijakan Subroto
Salah satu tokoh yang disoroti Yuliot adalah Subroto, yang menjabat Menteri Pertambangan dan Energi pada 1978-1988. Yuliot menilai Subroto berperan dalam meletakkan dasar kebijakan di lingkungan Kementerian ESDM.
Tiga warisan utama Subroto yang disebut Yuliot mencakup pembinaan organisasi kementerian, keberpihakan dan penguasaan negara atas sumber daya alam, terutama migas, serta program penghematan energi. Kiprah Subroto juga disebut mendapat pengakuan di tingkat global karena pernah dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal OPEC.
“Beliau justru banyak meletakkan dasar-dasar kebijakan yang ada di Kementerian ESDM,” ujar Yuliot.
Subsidi energi dan kesinambungan kebijakan
Selain membahas kontribusi Subroto, Yuliot menyinggung kebijakan subsidi energi pada masa Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh. Pada periode tersebut, subsidi dijalankan melalui dua skema, yakni subsidi terbuka untuk bahan bakar minyak (BBM) dan subsidi tertutup untuk liquefied petroleum gas (LPG), dengan pengawasan dalam pelaksanaannya.
Yuliot mengatakan upaya untuk membuat subsidi lebih tepat sasaran telah dimulai pada masa tersebut. Ia memandang kebijakan itu sebagai bagian dari kesinambungan langkah yang dirintis oleh menteri-menteri sebelumnya.
Memasuki usia ke-81, sektor pertambangan dan energi diarahkan untuk tetap memenuhi kebutuhan energi nasional dengan mempertahankan keberlanjutan sumber daya alam. Fondasi kebijakan dari para pendahulu menjadi bagian dari upaya menghadapi tantangan penyediaan energi melalui pemanfaatan sumber daya, konservasi, dan diversifikasi energi.
Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung kepentingan generasi saat ini sekaligus menjaga ketersediaan sumber daya bagi generasi mendatang.
Sumber: ANTARA News – Bisnis

















