Selamat dan Sukses

Rupiah Menguat 98 Poin ke Rp18.070 per Dolar AS, Dipengaruhi Hasil Pemilu AS

Kemenangan Partai Demokrat turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi AS dan pelemahan indeks dolar.

Sertifikatin 1

Nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan Kamis setelah hasil pemilihan umum paruh waktu Amerika Serikat dimenangkan Partai Demokrat. Rupiah naik 98 poin atau sekitar 0,54 persen menjadi Rp18.070 per dolar AS dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp18.168 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan hasil pemilu tersebut memengaruhi pergerakan rupiah karena memunculkan ekspektasi bahwa Partai Demokrat akan membatasi ruang pemerintahan Presiden Trump dalam menjalankan sejumlah kebijakan ekonomi.

Kebijakan yang menjadi perhatian pasar meliputi tarif, pajak, defisit anggaran pemerintah, serta penerbitan obligasi pemerintah AS. Menurut Rully, ekspektasi itu mendorong investor global menata kembali portofolionya ke aset berisiko atau risk on.

Dampak hasil pemilu terhadap pasar global

Perubahan sentimen tersebut juga tercermin pada pasar obligasi dan valuta asing Amerika Serikat. Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun 10,1 basis poin menjadi 4,86 persen. Pada saat yang sama, indeks dolar AS melemah ke level 101,3.

Penurunan yield dan pelemahan indeks dolar menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan mata uang negara-negara lain, termasuk rupiah. Namun, berdasarkan materi yang tersedia, Rully tidak menyebutkan besaran kontribusi masing-masing faktor terhadap kenaikan rupiah.

Harga minyak ikut menjadi faktor pendukung

Selain perkembangan politik di AS, penguatan rupiah turut dipengaruhi penurunan harga minyak mentah Brent. Harga minyak acuan internasional itu turun lebih dari 8 persen hingga mendekati 95 dolar AS per barel.

Pada Rabu, 4 November, pukul 18.50 GMT, harga Brent tercatat turun 8,55 dolar AS atau 8,25 persen menjadi 95,05 dolar AS per barel. Penurunan tersebut membuat harga Brent kembali berada di bawah level 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam sebulan.

Harga minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga melemah. WTI turun 7,81 dolar AS atau 8,13 persen menjadi 88,28 dolar AS per barel.

Sentimen domestik dan proyeksi rupiah

Di dalam negeri, perbaikan sentimen pasar terlihat dari penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Republik Indonesia. Yield obligasi pemerintah RI melandai ke level 7,67 persen.

Penguatan rupiah juga memperoleh dukungan dari proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III 2026. Pertumbuhan tersebut diperkirakan lebih kuat dibandingkan kuartal sebelumnya, meski sumber tidak merinci angka proyeksi maupun sektor yang menjadi pendorongnya.

Dengan mempertimbangkan hasil pemilu paruh waktu AS, pergerakan yield obligasi, pelemahan indeks dolar, penurunan harga minyak, serta sentimen domestik, rupiah diprediksi bergerak pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Pergerakan rupiah selanjutnya tetap akan dipengaruhi respons investor terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan AS dan perkembangan indikator pasar global. Namun, sumber hanya menyampaikan kisaran proyeksi nilai tukar tanpa memberikan perkiraan penutupan perdagangan atau arah pergerakan untuk hari-hari berikutnya.

Sumber: ANTARA News – Terkini

Home Trending Kontak