Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah ketidakpastian global dan gejolak pasar keuangan. Penilaian itu disampaikan setelah pemerintah melaporkan sejumlah indikator makroekonomi kepada Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu.
Airlangga mengatakan perkembangan ekonomi selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming ditopang oleh sejumlah indikator yang masih menunjukkan arah positif. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi berada di level 5,45 persen, sedangkan inflasi masih berada dalam kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen.
Sejumlah indikator makroekonomi tetap positif
Selain pertumbuhan dan inflasi, pemerintah mencatat indeks manajer pembelian atau purchasing managers’ index (PMI) berada di level 52. Indeks keyakinan konsumen juga tercatat sebesar 118.
Airlangga turut menyampaikan posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai 146 miliar dolar AS. Jumlah tersebut, menurut dia, setara dengan kemampuan pembiayaan sekitar 6,5 bulan impor.
Di sektor perbankan, penyaluran kredit tumbuh sekitar 13 persen. Pada saat yang sama, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) dinilai masih relatif rendah. Rangkaian indikator tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menilai kondisi makroekonomi nasional masih cukup kuat meskipun perekonomian dunia menghadapi ketidakpastian.
Airlangga menyampaikan laporan itu dalam keterangannya di Jakarta. Ia mengatakan indikator makroekonomi tersebut telah disampaikan kepada Presiden sebagai gambaran mengenai daya tahan ekonomi Indonesia menghadapi perkembangan global.
Sektor riil dan ketahanan pangan
Pemerintah juga mencatat kondisi sektor riil, terutama dari sisi ketersediaan pangan. Stok beras nasional disebut berada di atas 5 juta ton. Selain itu, nilai tukar petani meningkat hingga sekitar 130.
Menurut Airlangga, data tersebut menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi tidak hanya tercermin dari indikator pasar dan keuangan, tetapi juga dari kondisi produksi serta kesejahteraan petani yang tercermin melalui nilai tukar petani.
Namun, ia mengakui tetap terdapat gejolak sentimen di pasar keuangan. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah sentimen negatif terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pemerintah menilai gejolak MSCI tidak mencerminkan ekonomi secara keseluruhan
Airlangga menilai dinamika yang berkaitan dengan MSCI tidak serta-merta menggambarkan kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Ia menyebut gejolak tersebut sebagai riak sentimen yang tidak mengganggu perekonomian nasional secara menyeluruh.
Ia juga menyampaikan bahwa penilaian terhadap ekonomi Indonesia tidak hanya datang dari satu lembaga. Menurut Airlangga, masih terdapat banyak lembaga pemeringkat lain yang dapat menilai kondisi perekonomian Indonesia.
Untuk merespons gejolak tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menenangkan pasar. Airlangga mengatakan pergerakan pasar saham telah menunjukkan perbaikan dan berada di jalur positif pada hari penyampaian keterangannya.
Dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi, stabilitas inflasi, cadangan devisa, kinerja kredit, ketersediaan pangan, dan perbaikan pasar saham, pemerintah menilai Indonesia memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia. Meski demikian, Airlangga tetap mengakui adanya dinamika di pasar keuangan yang perlu terus diantisipasi.
Sumber: ANTARA News – Terkini
