Bank Indonesia (BI) menekankan tiga prioritas bank sentral dalam menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Pesan tersebut disampaikan Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali saat pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali.
Tiga prioritas yang disampaikan Ricky meliputi pembangunan tata kelola AI yang terpercaya, transparan, dan akuntabel; pemanfaatan AI untuk membentuk ekosistem pembayaran yang lebih efisien, aman, inklusif, serta berdaya tahan; dan penguatan kolaborasi regional melalui SEACEN.
Kolaborasi tersebut dapat dilakukan melalui dialog kebijakan, pengembangan kapasitas, dan riset bersama antarbank sentral di kawasan. Menurut Ricky, perkembangan AI membuat negara-negara perlu memperkuat pendekatan bersama untuk menjaga stabilitas dan ketahanan sistem keuangan.
“AI menghadirkan tantangan yang tidak dapat dihadapi satu negara sendiri,” kata Ricky sebagaimana keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Kolaborasi untuk tata kelola dan stabilitas
Ricky menilai kerja sama regional semakin strategis seiring cepatnya perkembangan teknologi. Melalui kerja sama itu, bank sentral dapat membangun tata kelola AI yang lebih dapat dipercaya, memperkuat kapasitas pengawasan, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi bagi sistem pembayaran dan inklusi keuangan.
Ia juga menekankan nilai penting dari pertukaran pengalaman antarnegara. Pengetahuan dan pembelajaran bersama dinilai semakin diperlukan untuk merespons perubahan teknologi yang berlangsung cepat dan membentuk masa depan bank sentral.
“Pengetahuan dan pengalaman bersama akan semakin berharga dalam membentuk masa depan bank sentral,” ujar Ricky.
Interoperabilitas pembayaran lintas negara
Direktur Eksekutif The SEACEN Centre Cynyoung Park dalam kesempatan yang sama menyoroti perlunya interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara. Keterhubungan antarsistem pembayaran dinilai penting untuk mendukung integrasi ekonomi di kawasan.
Menurut Cynyoung, interoperabilitas membutuhkan standar dan pengaturan yang kompatibel. Selain itu, perlu tersedia kerangka pengelolaan likuiditas serta risiko penyelesaian transaksi yang jelas.
Penguatan fondasi tersebut diharapkan mendukung perluasan konektivitas pembayaran untuk kegiatan perdagangan dan investasi regional.
Kepercayaan sebagai fondasi bank sentral
Kepala Ekonom United Nations Development Programme (UNDP) untuk Asia dan Pasifik Philip Schellekens menekankan kepercayaan sebagai fondasi peran bank sentral di tengah perkembangan AI.
Ia menyebut bank sentral perlu memahami perubahan yang ditimbulkan AI terhadap perekonomian dan teknologi. Bank sentral juga perlu mengantisipasi risiko sistemik yang dapat muncul dari ketergantungan pada penyedia platform AI tertentu.
Kepercayaan menjadi dasar bagi bank sentral dalam menjaga stabilitas dan memastikan pemanfaatan AI menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian.
KTT SEACEN di Bali mempertemukan berbagai perspektif mengenai perkembangan AI serta implikasinya terhadap kebijakan bank sentral. Konferensi tersebut mengangkat tema “Central Banking in the Age of Artificial Intelligence: Payments, Regulation, and Financial Stability for a Connected Asia”.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan 25th SEACEN Executive Committee (EXCO) Meeting pada 6 Oktober 2026. Pertemuan itu dipimpin Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali dan membahas penguatan tata kelola serta kelembagaan SEACEN sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi bank sentral di kawasan.
Sumber: ANTARA News – Finansial


















