Mojokerto, INFOJAWATIMUR.COM – Upaya pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mojokerto terus diperkuat melalui program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Terbaru, warga binaan dilibatkan langsung dalam kegiatan penyortiran benih lele di kolam SAE sebagai bagian dari pelatihan keterampilan usaha yang bernilai ekonomis.
Dalam kegiatan tersebut, warga binaan dengan pendampingan petugas memilah benih lele berdasarkan ukuran serta kondisi fisiknya. Proses ini menjadi tahap penting dalam budidaya karena menentukan kualitas hasil panen dan nilai jual ikan.
Petugas pembinaan menjelaskan bahwa penyortiran bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan bagian dari transfer pengetahuan budidaya profesional. Dengan memahami standar benih unggul, warga binaan diharapkan mampu menghasilkan produk perikanan yang kompetitif di pasar.
đŻ Bekal Nyata untuk Kemandirian
Program kolam SAE memang dirancang sebagai laboratorium praktik bagi warga binaan. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat penuh mulai dari persiapan kolam, penebaran bibit, perawatan, hingga panen. Pendekatan ini bertujuan menumbuhkan keterampilan yang bisa langsung dimanfaatkan setelah bebas nanti.
Melalui kegiatan produktif ini, Lapas Mojokerto ingin memastikan masa pembinaan menjadi momentum perubahan. Warga binaan didorong memiliki jiwa kerja, tanggung jawab, sekaligus peluang usaha mandiri di bidang budidaya lele.
đ Budidaya Lele Dipilih karena Prospektif
Komoditas lele dipilih bukan tanpa alasan. Selain relatif mudah dibudidayakan, ikan lele memiliki permintaan pasar yang stabil dan modal usaha yang terjangkau. Karena itu, keterampilan ini dinilai realistis untuk dikembangkan warga binaan ketika kembali ke masyarakat.
Program SAE sendiri juga menjadi bentuk optimalisasi lahan lapas agar lebih produktif sekaligus edukatif. Pendampingan rutin dari petugas memastikan proses budidaya berjalan sesuai standar teknis perikanan.
đ Harapan Pasca Bebas
Pihak lapas berharap pelatihan ini mampu menekan angka residivisme dengan membuka peluang ekonomi baru bagi warga binaan. Dengan bekal keterampilan praktis dan pengalaman lapangan, mereka diharapkan tidak hanya kembali ke masyarakat, tetapi juga mampu mandiri secara ekonomi.
Program pembinaan berbasis SAE di Lapas Mojokerto pun diproyeksikan terus berkembang sebagai model pembinaan produktif yang menggabungkan aspek edukasi, kemandirian, dan reintegrasi sosial.


















