INFOJAWATIMUR.COM – Penampilan pencak silat di panggung internasional tidak hanya bertumpu pada kemampuan pesilat saat tampil. Persiapan latihan, penyusunan komposisi pertunjukan, koordinasi delegasi, hingga pemenuhan kebutuhan pendanaan menjadi bagian dari proses membawa seni tradisi Indonesia ke hadapan masyarakat dunia.
Proses tersebut mewarnai perjalanan delegasi Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) saat mengikuti 1st International Pencak Silat Culture & Heritage Festival di Amersfoort, Belanda.
Delegasi PSHWTM berjumlah enam orang. Tiga di antaranya merupakan penampil, yakni Bayu Supriyanto, Najih Khoerul Umam, dan Kansya Dyah Puspitasari. Sementara itu, Suyanto, budayawan sekaligus saudara tua PSHWTM dari Bojonegoro, mengisi kegiatan lokakarya atau workshop. Koordinasi rangkaian kegiatan delegasi dilakukan oleh perwakilan PSHWTM dengan dukungan Wenik Rahayu.
Persiapan pertunjukan dilakukan melalui latihan di Pusat PSHWTM, Jalan Doho, Kota Madiun, yang juga menjadi markas Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso. Latihan turut dilaksanakan di Sanggar Seni Pencak Silat Satria Krida Manggala, Caruban, Kabupaten Madiun.
Komposisi pertunjukan yang disiapkan memadukan jurus tunggal, permainan senjata, gerak tari, dan iringan musik tradisi. Perpaduan tersebut menghadirkan pencak silat sebagai ekspresi budaya yang memadukan keterampilan bela diri, seni gerak, dan musik tradisional.
Dalam pelaksanaannya, tantangan komunikasi juga menjadi bagian dari pengalaman delegasi, terutama saat berinteraksi dengan peserta dan penonton dalam kegiatan lokakarya. Berdasarkan penuturan perwakilan PSHWTM, penggunaan bahasa Inggris yang belum sepenuhnya lancar menjadi salah satu kendala dalam komunikasi selama kegiatan berlangsung.
Selain persiapan teknis, pemenuhan kebutuhan pendanaan turut menjadi bagian penting dalam keberangkatan delegasi. Berdasarkan keterangan yang disampaikan pihak PSHWTM, keberangkatan dan pelaksanaan kegiatan di Belanda mendapat dukungan dari sejumlah pihak. Dukungan tersebut membantu memenuhi kebutuhan delegasi, meskipun masih diperlukan upaya tambahan untuk menghadirkan komposisi pertunjukan secara lebih lengkap sesuai konsep yang telah disiapkan.
Rangkaian persiapan tersebut menunjukkan bahwa partisipasi dalam festival kebudayaan internasional tidak berhenti pada penampilan di atas panggung. Ada proses pembinaan, penyusunan pertunjukan, koordinasi, serta pemenuhan kebutuhan operasional yang menjadi bagian dari perjalanan sebuah delegasi seni budaya.
Bagi PSHWTM, proses yang berawal dari latihan di Madiun tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pencak silat Mataraman sekaligus membawa kekayaan seni tradisi Indonesia ke hadapan masyarakat lintas negara.
