Oleh: Sudarsono Rahman
Aktivis NU Jawa Timur
“Jabatan Boleh Tinggi, tetapi Hati Harus Tetap Membumi.”
Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM – Tidak semua orang yang menduduki jabatan tinggi mampu mempertahankan kesederhanaan dan kedekatannya dengan masyarakat. Namun, sosok Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A., sebagaimana tergambar dalam kehadirannya di tengah komunitas masyarakat, menghadirkan refleksi tentang makna kepemimpinan yang tidak semata-mata diukur dari kedudukan, tetapi juga dari kerendahan hati dan kedekatan dengan sesama.
Kehadiran beliau di SoDus Surabaya bersama sahabat-sahabat komunitas menjadi gambaran tentang seorang tokoh bangsa yang tetap membuka ruang pergaulan tanpa sekat sosial.
Di tengah tanggung jawab dan kesibukannya, beliau meluangkan waktu untuk duduk bersama, bercengkerama, dan menikmati suasana persahabatan dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Dalam suasana tersebut, kebersamaan menjadi hal yang menonjol. Tidak semata-mata tentang kedudukan atau penghormatan kepada seorang tokoh, tetapi juga tentang kesempatan untuk berinteraksi secara lebih dekat dalam suasana yang hangat dan bersahaja.
Bagi seorang pemimpin, jabatan semestinya bukan alasan untuk menjauh dari rakyat. Sebaliknya, amanah yang diemban perlu menjadi pengingat untuk terus menjaga kepekaan sosial, mempererat persaudaraan, dan membuka ruang dialog dengan berbagai kalangan.
Kebijaksanaan pun tidak selalu hadir dalam forum resmi, pertemuan protokoler, atau ruang-ruang pengambilan keputusan. Terkadang, percakapan sederhana, canda bersama sahabat, dan kesediaan mendengarkan orang lain menjadi bagian penting dalam memahami kehidupan masyarakat secara lebih dekat.
Kehadiran KH. Said Aqil Siroj di tengah komunitas Surabaya juga dapat menjadi refleksi tentang kepemimpinan yang inklusif dan humanis. Seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari kedudukan, keilmuan, atau pengaruh yang dimilikinya, tetapi juga dari cara membangun hubungan dengan sesama serta menghadirkan suasana yang terbuka dan saling menghargai.
Inilah makna kepemimpinan yang humanis: tinggi dalam kedudukan, luas dalam pemikiran, tetapi tetap rendah hati dalam pergaulan.
Di tengah kehidupan sosial yang terkadang menempatkan jabatan dan simbol kekuasaan sebagai ukuran kehormatan, kebersamaan seperti ini mengingatkan kita bahwa jabatan merupakan amanah, sedangkan persaudaraan, ketulusan, dan kemanusiaan adalah nilai-nilai yang perlu terus dirawat.
Bagi seorang kiai, kedekatan dengan masyarakat juga merupakan bagian penting dari kehidupan sosial. Peran sebagai tokoh agama, guru, dan sahabat tidak harus terpisah dari tanggung jawab dalam lingkungan kenegaraan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan selama tetap berlandaskan nilai-nilai pengabdian dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, kebesaran seorang pemimpin tidak cukup diukur dari seberapa banyak orang memberikan penghormatan kepadanya, tetapi juga dari bagaimana ia membangun hubungan dengan sesama, menghargai perbedaan, dan menjaga ketulusan dalam pergaulan.
Berada di lingkungan kekuasaan tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan kedekatan dengan masyarakat. Sebab, setinggi apa pun jabatan yang diemban, nilai kemanusiaan dan kerendahan hati tetap menjadi bagian penting dari keteladanan.


















