INFOJAWATIMUR.COM – Di sudut sederhana wilayah Kelurahan Tumenggungan, Banyuwangi, tangan renta seorang perempuan sepuh yang kini sudah berusia 97 tahun masih setia menorehkan malam di atas kain putih. Garis demi garis ia lukis dengan penuh ketelitian, menghadirkan motif-motif khas yang sarat makna budaya. Dialah Mbah Sum, sosok pembatik legendaris sekaligus salah satu pembatik tertua di Banyuwangi.
Di usia senjanya, Mbah Sum tidak sekadar membatik untuk mencari nafkah. Bagi beliau, membatik adalah napas kehidupan, ibadah, dan bentuk cinta kepada warisan leluhur. Setiap goresan canting yang lahir dari tangannya bukan hanya karya seni, melainkan cerita panjang tentang perjuangan, kesabaran, dan pengabdian.
Nenek yang akrab disapa Mbah Sum ini tengah sibuk dengan rutinitas kesehariannya, yakni membatik tulis dengan aneka motif khas Banyuwangi mulai pagi hingga sore. Ia mengaku mewarisi keahlian membatik dari orang tua dan Nenek Buyutnya. Ia menekuni membatik sejak kelas V SD pada Zaman pendudukan Jepang.
Mbah Sum dikenal sebagai penjaga batik tulis klasik Banyuwangi, terutama motif-motif tradisional seperti Motif Gajah Oling yang menjadi ikon batik daerah tersebut. Motif ini bukan sekadar corak indah, tetapi memiliki filosofi mendalam tentang kebesaran Tuhan dan ajakan untuk selalu mengingat Sang Pencipta.
Keahlian membatik yang dimiliki Mbah Sum lahir dari perjalanan panjang puluhan tahun. Saat banyak orang beralih pada produksi modern yang serba cepat, beliau tetap teguh mempertahankan batik tulis dengan teknik tradisional. Prosesnya memang lebih lama, lebih rumit, dan membutuhkan kesabaran ekstra. Namun justru di sanalah letak nilai luhur batik sesungguhnya.
Di tengah gempuran batik printing yang kini semakin mendominasi pasar, kisah Mbah Sum menjadi pengingat penting bahwa batik bukan sekadar kain bermotif. Batik adalah identitas, sejarah, dan jati diri bangsa. Setiap motif menyimpan cerita, setiap warna membawa filosofi, dan setiap kain merekam jejak budaya Nusantara.
Kisah Mbah Sum juga menjadi pesan kuat bagi anak cucu serta generasi muda Banyuwangi. Warisan budaya tidak akan bertahan tanpa penerus yang peduli. Jika generasi sekarang enggan belajar dan melestarikan batik, maka bukan tidak mungkin warisan berharga ini perlahan memudar. Dalam sesi wawancara ini beliau cukup bangga saat anak cucunya bisa sukses dengan hasil dari batik dan beliaupun bercerita bahwa “Gubernur Khofifah juga pernah datang ke rumah saya ini. Beliau juga mengajak saya di sebuah seminar dan memperkenalkan saya ke para pejabat lainnya,” ujarnya dengan bangga.
Mbah Sum menasbihkan hidupnya untuk membatik, sehingga pada tahun 2021 lalu, dia mendapatkan penghargaan “Penjaga Tradisi” oleh Yayasan Batik Indonesia di Jakarta.
Anak-anak muda perlu memahami bahwa melestarikan batik bukan berarti terjebak di masa lalu. Justru dengan kreativitas, inovasi, dan sentuhan modern, batik bisa terus hidup dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan ruh budayanya. Banyak pembatik muda Banyuwangi kini mulai membuktikan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan berdampingan.
Sementara itu, cucu kedua Mbah Acum, Dwi Rahayu menambahkan bahwa pembatik tradisional semakin langka. Dia berharap pemerintah kabupaten (pemkab) memberi perhatian untuk pembatik seperti neneknya.
“Pembatik kaya simbah ini susah dan mungkin hampir punah. Pemerintah kabupaten tolong dilestarikanlah, diangkat untuk generasi ke depan,” kata Dwi.
Dwi memuji simbahnya sebagai sosok yang ulet dan tekun. Bahkan semangatnya masih membara meski di usia senja.
Mbah Sum telah menunjukkan kepada kita bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya. Semangatnya mengajarkan bahwa dedikasi dan cinta terhadap budaya mampu melampaui zaman.
Warisan terbesar Mbah Sum bukan hanya kain batik yang indah, tetapi nilai kehidupan yang ia tinggalkan: ketekunan, kesabaran, kecintaan pada budaya, dan semangat menjaga identitas bangsa.
