JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menelusuri produksi dan distribusi pakan udang sebagai bagian dari upaya memperbaiki validitas data produksi udang nasional. Langkah ini dilakukan karena data produksi udang dinilai belum sepenuhnya sejalan dengan jumlah pakan yang diproduksi dan beredar di berbagai wilayah budi daya.
Direktur Ikan Air Tawar KKP Gemi Triastutik mengatakan, penelusuran tersebut bertujuan mengetahui volume pakan yang dihasilkan pabrikan sekaligus wilayah penyalurannya. Informasi itu akan digunakan untuk mendukung penyusunan data produksi udang yang lebih akurat.
“Antara data produksi udang dengan data pakan yang dikeluarkan ini kadang-kadang tidak sinkron,” ujar Gemi dalam pertemuan Towards Sustainable and Conversion-free Aquaculture in Southeast Asia (TOSCA) di Jakarta, Kamis.
KKP Dorong Keterbukaan Data
Menurut Gemi, pemerintah perlu mengetahui secara lebih jelas jumlah pakan yang diproduksi serta tujuan distribusinya. Untuk itu, KKP mendorong keterbukaan data yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha.
Penelusuran atau traceability distribusi pakan menjadi penting karena data tersebut dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk memvalidasi angka produksi udang. KKP ingin memastikan informasi mengenai pakan dan produksi dapat dibaca secara lebih konsisten dalam mendukung kebijakan pengembangan budi daya.
Langkah ini merupakan bagian dari kolaborasi pemerintah dalam proyek TOSCA. Program tersebut diarahkan untuk mendorong budi daya udang yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing, sekaligus membangun ekosistem bisnis yang tidak bergantung pada konversi ekosistem.
Proyek TOSCA didanai Global Environment Facility (GEF) melalui Asian Development Bank (ADB). Dalam kerja sama itu, penguatan data menjadi salah satu bagian yang mendukung pengembangan industri budi daya udang dari hulu hingga hilir.
Uji Bahan Baku Pakan Alternatif
Selain menelusuri distribusi pakan, KKP mendorong pengembangan bahan baku alternatif untuk mengurangi ketergantungan industri pakan terhadap tepung ikan yang berasal dari hasil tangkapan laut.
Salah satu bahan yang tengah diuji adalah ikan gabus sebagai sumber alternatif tepung ikan. Hasil pengembangan tersebut selanjutnya akan diuji sebagai bahan pakan udang di sejumlah lokasi revitalisasi tambak, yakni Aceh, Lampung, dan Bali.
Pengembangan bahan baku alternatif itu menjadi bagian dari upaya mendorong budi daya yang lebih berkelanjutan. Namun, sumber tidak memuat hasil pengujian maupun tingkat kesiapan penggunaannya dalam produksi pakan udang.
Target Produksi Udang 2029
Validitas data produksi menjadi semakin penting seiring target pemerintah meningkatkan produksi udang nasional. Berdasarkan data KKP, produksi udang Indonesia mencapai 844.140 ton pada 2024.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, pemerintah menargetkan produksi perikanan budi daya sebesar 8,32 juta ton. Dari total target tersebut, produksi udang ditetapkan mencapai 1,69 juta ton pada 2029.
Data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menunjukkan perdagangan udang global juga terus tumbuh. Volume ekspor udang dunia tercatat 3,97 juta ton pada 2025. Ekuador menjadi eksportir terbesar dengan 1,41 juta ton, diikuti India sebanyak 804,20 ribu ton dan Vietnam 335,28 ribu ton.
Pada periode yang sama, ekspor udang Indonesia mencapai 218,87 ribu ton dengan nilai 1,87 miliar dolar AS. Angka tersebut menjadi konteks bagi pemerintah dalam memperkuat industri budi daya dan meningkatkan daya saing udang Indonesia melalui data produksi yang lebih valid.
Sumber: ANTARA News – Bisnis


















