Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM –
Masjid Al Musafirin di Rest Area 753 B Tol Surabaya–Gempol mengusung pendekatan arsitektur yang terinspirasi dari karakter masjid awal di Nusantara. Selain menonjolkan bentuk atap dan warna bangunan, perancangannya juga memperhatikan kebutuhan ruang ibadah serta pemanfaatan pencahayaan dan sirkulasi udara.
Masjid yang diresmikan pada Ahad (18/10/2026) tersebut dirancang dengan mempertimbangkan kondisi lahan dan lingkungan sekitarnya. Arsitek Masjid Al Musafirin, Andy Rahman, menjelaskan bahwa desain bangunan berupaya menjaga harmoni dengan lingkungan fisik, sosial, dan budaya setempat.
Salah satu perubahan yang menonjol terdapat pada kapasitas ruang ibadah. Jika bangunan sebelumnya menampung sekitar 280 jemaah, bangunan baru ini dirancang untuk menampung hingga 450 jemaah, bahkan lebih.

Peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan ruang agar dapat digunakan oleh lebih banyak jemaah. Keberadaan masjid di kawasan rest area juga mendukung kebutuhan pengguna jalan tol untuk menunaikan ibadah selama perjalanan.
Dari sisi perancangan, pencahayaan alami dan sirkulasi udara turut menjadi pertimbangan. Andy menjelaskan bahwa desain masjid memungkinkan masuknya cahaya alami pada siang hari serta mendukung sirkulasi udara sepanjang hari.
“Konsep ini membuat masjid ini lebih hemat energi dan sehat,” jelas Andy.
Karakter arsitektur Nusantara terlihat pada bentuk atap yang mengambil inspirasi dari masjid-masjid awal di Nusantara. Bentuk atap tajuk tersebut disederhanakan dengan tetap mempertahankan kesan monumental.
Warna terakota dipilih untuk menghadirkan karakter visual yang dekat dengan bangunan bata dan candi di Jawa Timur. Pilihan ini menjadi salah satu unsur yang menonjol pada tampilan eksterior Masjid Al Musafirin.
Selain ruang ibadah, fasilitas penunjang juga menjadi bagian dari bangunan masjid. Dokumentasi saat rangkaian peresmian memperlihatkan area toilet dengan sejumlah urinoar bersekat. Fasilitas semacam ini menjadi bagian dari sarana yang menunjang kebutuhan pengguna masjid, meskipun kualitas kenyamanan dan aksesibilitasnya tidak dapat disimpulkan hanya dari dokumentasi visual.

Pembangunan Masjid Al Musafirin dimulai pada September 2025. Setelah melalui proses pembangunan, masjid tersebut kini resmi beroperasi untuk melayani kebutuhan ibadah para pengguna jalan tol maupun masyarakat di sekitarnya.
Perpaduan optimalisasi ruang, pencahayaan alami, sirkulasi udara, dan inspirasi arsitektur Nusantara menjadi bagian dari pendekatan desain Masjid Al Musafirin. Kehadirannya diharapkan mendukung fungsi masjid sebagai tempat ibadah yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh para musafir dan masyarakat sekitar.


















