INFOJAWATIMUR.COM – Aroma pertarungan menuju Muktamar NU ke-35 yang akan digelar pada 1-5 Agustus mendatang kian terasa panas. Manuver elite, perang pengaruh antar kubu, hingga konsolidasi dukungan di daerah mulai terbuka ke publik dan memantik kegaduhan di internal Nahdlatul Ulama.
Situasi itu disebut makin terlihat saat gelaran Munas dan Konbes Ulama di Ponpes Al Falah Ploso, Kediri, beberapa waktu lalu. Meski forum resmi telah berakhir, tensi politik di tubuh PBNU disebut belum mereda. Bahkan, sejumlah potongan dinamika dan aksi tak pantas antar pendukung masih ramai beredar di media sosial.
Ketua IPNU Jawa Timur periode 1988-1992, Soedarsono Rahman, menilai NU saat ini membutuhkan figur pemersatu yang mampu keluar dari pusaran konflik elite.
“Analisa saya, ada pertarungan sengit antara dua kubu besar, yakni faksi Gus Yahya selaku Ketua Umum PBNU dan faksi Gus Ipul selaku Sekjen PBNU. Gus Yahya akan maju lagi, sementara Gus Ipul tampaknya mendorong KH Nazaruddin Umar dengan dukungan Rois Aam KH Miftachul Akhyar,” ujar Soedarsono.
Pria yang akrab disapa Cak Dar itu menegaskan, PBNU ke depan tidak boleh terus terseret dalam konflik kepentingan kelompok. Menurutnya, NU membutuhkan sosok “tengah” yang teduh, mengayomi, dan diterima semua kalangan.
“PBNU butuh figur yang adem, tidak menambah konflik, bisa diterima semua kubu, dan mau turun ngaji ke bawah. Kalau menurut saya, figur ideal itu Gus Yusuf, Pengasuh Ponpes API Tegalrejo,” katanya.
Nama KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf mulai disebut sebagai alternatif pemersatu di tengah mengerasnya pertarungan antar kubu. Selain dikenal luas di kalangan pesantren Jawa Tengah, Gus Yusuf dinilai memiliki karakter santun dan jauh dari kontroversi politik praktis.
“Ketua Umum PBNU itu harus kiai yang lincah, tapi tidak merugikan organisasi. Bisa merangkul semua kalangan. Ingat, NU bukan hanya milik nahdliyin, tapi milik umat,” tegas Cak Dar.
Ia juga mengingatkan agar Muktamar NU tidak melahirkan figur kontroversial atau tokoh yang menjadikan organisasi sebagai kendaraan kekuasaan.
“Ojo sosok yang kontroversial, melanggar aturan, termasuk rangkap jabatan di pemerintahan. Jangan sampai NU hanya dijadikan kendaraan,” tandasnya.
Menurut Cak Dar, sosok Ketua Umum PBNU mendatang harus bebas konflik, rendah hati, dekat dengan pesantren dan masyarakat desa, berani, jujur, serta memiliki visi besar menjaga marwah organisasi.
“Figur seperti itu ada pada KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf,” ujarnya.
Sejauh ini, sejumlah nama telah menyatakan siap bertarung dalam bursa Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35. Di antaranya KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Gus Rozin, hingga petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Seluruh Kandidat kini mulai aktif melakukan Safari ke PWNU dan PCNU serta Kisi2 Sepuh untuk menggalang dukungan, minta Do’a Restu dan menggalang dukungan Muktamirin sebagai pemilik suara dalam Muktamar NU mendatang.
Oleh : Sudarsono Rahman
Wakil Ketua Umum DPP BariKade Gus Dur, Mantan Ketua PW IPNU Jawa Timur 1988–1999
