INFOJAWATIMUR.COM-Mengubah kesadaran masyarakat terhadap sampah bukanlah perkara instan. Diperlukan konsistensi, ketekunan, dan tangan dingin seorang figur penggerak. Hal inilah yang tecermin di Kelurahan Simo Mulyo, di mana sebuah gerakan berbasis lingkungan bernama Bank Sampah Trio Lestari perlahan namun pasti sukses mengubah sudut pandang warga terhadap limbah domestik.
Meskipun aktivitas penyetoran dan penimbangan sampah hanya digelar secara rutin satu bulan sekali, antusiasme warga tidak pernah surut. Justru, momen satu hari di setiap bulan tersebut menjadi waktu yang paling dinantikan oleh puluhan anggota untuk menyulap tumpukan sampah anorganik menjadi pundi-pundi rupiah yang bernilai guna.
Di balik geliat positif ini, ada sosok Yoyok Triyono yang menjadi motor penggerak utama. Selaku Ketua Bank Sampah Trio Lestari sekaligus menyandang amanah sebagai Fasilitator Lingkungan di Kelurahan Simo Mulyo, Yoyok tidak sekadar memimpin jalannya birokrasi organisasi, melainkan turun langsung memberikan edukasi dari pintu ke pintu. Bagi Yoyok, mengelola sampah adalah bagian dari pengabdian terhadap kelestarian lingkungan tempat tinggalnya.
”Kuncinya adalah konsistensi dan pemahaman bahwa sampah jika dikelola dengan benar bukanlah musuh, melainkan berkah. Kami ingin membangun ekosistem di mana warga merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap lingkungannya,” ujar Yoyok dalam sebuah kesempatan.
Seiring berjalannya waktu, gerakan yang dimulai dari skala kecil ini kini telah memperlihatkan dampak yang signifikan. Saat ini, Bank Sampah Trio Lestari tercatat telah merangkul setidaknya 75 orang anggota aktif. Setiap bulannya, puluhan warga ini dengan tertib memilah sampah dari rumah masing-masing—mulai dari botol plastik, kertas bekas, hingga kaleng—sebelum akhirnya ditimbang dan ditabungkan di bank sampah.
Keberadaan Bank Sampah Trio Lestari menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan waktu operasional yang hanya sebulan sekali bukanlah hambatan, melainkan sebuah metode penataan yang efektif jika dikelola dengan manajemen yang rapi. Gerakan di Simo Mulyo ini menjadi prototipe kecil bagaimana sinergi antara kepemimpinan yang berdedikasi dan kesadaran kolektif warga mampu melahirkan solusi nyata bagi isu lingkungan di tingkat perkotaan.
