INFOJAWATIMUR.COM- Bulan Muharram menjadi salah satu waktu yang istimewa bagi umat Islam. Selain menandai pergantian tahun dalam kalender Hijriah, bulan pertama dalam penanggalan Islam ini juga dipenuhi berbagai amalan sunnah yang dianjurkan, salah satunya adalah puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.
Puasa Asyura memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah SAW bahkan menyebut Muharram sebagai “bulan Allah”, sehingga ibadah yang dilakukan di dalamnya memiliki nilai keutamaan tersendiri. Karena itu, banyak umat Muslim mempersiapkan diri untuk menjalankan puasa Asyura dengan niat yang tulus demi meraih pahala dan ampunan dari Allah SWT.
Bacaan Niat Puasa Asyura 10 Muharram
Sebelum melaksanakan puasa sunnah Asyura, umat Islam dianjurkan untuk meneguhkan niat sebagai bentuk kesungguhan beribadah kepada Allah SWT. Niat dapat dibaca sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar.
Berikut bacaan niat puasa Asyura:
Arab
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati ‘Âsyûrâ’a lillâhi ta’âlâ.
Artinya
“Aku berniat melaksanakan puasa sunnah Asyura esok hari karena Allah SWT.”
Bolehkah Berniat di Pagi Hari?
Dalam pelaksanaan puasa sunnah, seseorang yang belum sempat berniat pada malam hari masih diperbolehkan berniat pada pagi atau siang hari. Namun terdapat syarat penting, yakni sejak terbit fajar belum melakukan aktivitas yang membatalkan puasa seperti makan, minum, maupun hubungan suami istri.
Ketentuan ini memberikan kemudahan bagi umat Islam yang secara mendadak ingin mengerjakan puasa Asyura atau lupa melafalkan niat pada malam sebelumnya.
Mengapa Puasa Asyura Begitu Istimewa?
Keutamaan terbesar puasa Asyura adalah janji penghapusan dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu. Keutamaan tersebut berasal dari hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa puasa pada hari Asyura menjadi salah satu amalan yang sangat dicintai Allah SWT.
Selain itu, puasa Asyura merupakan bentuk mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai riwayat, Rasulullah diketahui sangat memperhatikan pelaksanaan puasa ini dan menganjurkannya kepada umat Islam.
Bahkan, puasa Asyura juga berkaitan dengan peristiwa bersejarah ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Sebagai ungkapan syukur atas pertolongan tersebut, Nabi Musa menjalankan puasa, yang kemudian turut diamalkan dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Keutamaan Puasa Asyura
Berikut sejumlah keutamaan yang bisa diperoleh dari menjalankan puasa Asyura:
Menjadi Momentum Introspeksi Diri
Selain bernilai ibadah, puasa Asyura juga menjadi sarana memperkuat ketakwaan, melatih pengendalian diri, serta meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang diberikan.
Penutup
Puasa Asyura bukan sekadar menahan lapar dan dahaga pada tanggal 10 Muharram. Lebih dari itu, ibadah sunnah ini menjadi momentum spiritual bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta mengharapkan ampunan atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Dengan memahami bacaan niat, tata cara, dan keutamaannya, umat Muslim dapat menjalankan puasa Asyura dengan lebih khusyuk dan penuh kesadaran akan besarnya pahala yang dijanjikan.
Menghapus Dosa Setahun Sebelumnya
Puasa Asyura menjadi salah satu amalan sunnah yang memiliki ganjaran besar, yakni penghapusan dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu.
Menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW
Melaksanakan puasa Asyura berarti mengikuti jejak dan teladan Rasulullah SAW yang sangat menganjurkan amalan tersebut kepada umatnya.
Menjalankan Puasa Utama di Bulan Muharram
Muharram dikenal sebagai salah satu bulan paling mulia dalam Islam. Karena itu, puasa yang dilakukan di bulan ini memiliki nilai keutamaan yang tinggi setelah puasa Ramadan.
