Rupiah Babak Belur, Manufaktur Sekarat: Kadin Jatim Desak Pemerintah “Banting Setir” Anggaran

Adik Dwi Putranto, Ketua Umum Kadin Jawa Timur

Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM – Lonjakan perkasa mata uang Dolar AS (USD) tidak lagi sekadar menjadi angka di layar bursa efek; ia kini menjelma menjadi badai riil yang mulai memakan korban di sektor rill Indonesia. Mengantisipasi dampak yang semakin fatal, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah taktis: realokasi anggaran.

Dunia usaha, khususnya sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, kini berada dalam posisi terjepit antara biaya produksi yang melambung tinggi dan daya beli masyarakat yang justru sedang lesu.

Efek Domino Dolar: Dari Bahan Baku hingga Ancaman PHK

Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap rupiah telah memicu “efek domino” yang mengerikan di lantai produksi.

“Banyak industri manufaktur kita yang bahan bakunya masih harus diimpor menggunakan dolar. Ketika dolar perkasa, biaya modal otomatis membengkak. Celakanya, pengusaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual karena pasar domestik juga sedang lemah,” ujar Adik.

Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut tanpa intervensi, skenario terburuknya sudah jelas: penurunan kapasitas produksi, kerugian massal, hingga ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Solusi Kadin Jatim: Amankan Perut Sektor Riil via Realokasi Anggaran

Melihat situasi yang kian genting, Kadin Jatim menilai intervensi moneter dari Bank Indonesia saja tidak akan cukup. Perlu ada bantalan fiskal yang kuat dari pemerintah pusat maupun daerah.

Kadin Jatim secara spesifik mengusulkan realokasi anggaran belanja pemerintah untuk tiga fokus utama:

Sektor FokusBentuk Intervensi yang DiharapkanDampak Langsung
Subsidi Energi & LogistikMenahan kenaikan tarif listrik industri dan BBM, serta menyubsidi jalur logistik domestik.Menekan ongkos operasional harian pabrik agar tidak kolaps.
Insentif Pajak ImporRelaksasi pajak atau bea masuk untuk bahan baku industri strategis.Memberi ruang napas bagi arus kas (cash flow) perusahaan.
Penguatan Pasar DomestikMempercepat penyerapan APBD/APBN untuk produk lokal (P3DN).Memastikan barang produksi dalam negeri tetap terjual.

“Jangan Tunggu Sampai Pabrik Gulung Tikar”

Kadin Jatim menegaskan bahwa struktur anggaran yang ada saat ini harus lebih fleksibel dan adaptif terhadap krisis global. Anggaran untuk proyek-proyek non-mendesak dinilai perlu digeser demi menyelamatkan sektor industri yang menjadi motor penggerak lapangan kerja.

“Ini adalah lampu kuning bagi perekonomian kita. Pemerintah harus bergerak cepat, ‘banting setir’ kebijakan fiskal untuk menyelamatkan industri dalam negeri. Jangan tunggu sampai gelombang gulung tikar terjadi baru kita sibuk mencari solusi,” pungkas Adik dengan nada tegas.

Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Apakah kebijakan anggaran akan tetap berjalan seperti biasa (business as usual), atau akan ada gebrakan penyelamatan demi membentengi ekonomi nasional dari hantaman dolar? Kita tunggu saja.

Need Help? Chat with us
Exit mobile version