Jember, INFOJAWATIMUR.COM Pabrik gula baru berpeluang dibangun di Jember. Namun daya dukung lahan untuk memasok tebu harus benar-benar dipastikan terlebih dulu. Hal ini dikemukakan General Manager Pabrik Gula Glenmore Agus Priambodo, dalam acara konsolidasi petani di Rumah Makan Mangli Indah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (25/4/2026).
“Target pemerintah sekian juta ton gula tidak akan bisa dicapai kalau hanya mengandalkan pabrik yang ada,” kata Agus.
Agus sempat diundang ke Surabaya pekan lalu. “Pak Menteri Pertanian (Andi Amran Sulaiman) menugaskan PT SGN (Sinergi Gula Nusantara) untuk membangun enam sampai delapan pabrik gula baru,” katanya.
Petani dan Pemerintah Kabupaten Jember disarankan menjajaki kemungkinan pembangunan pabrik gula tersebut. “Yang jelas dua pabrik sudah ditetapkan di Lampung dan Makassar. Jadi jangan cuma swasta, kita yang pemerintah juga diberi ruang,” kata Agus.
Keberadaan pabrik gula baru berpotensi menambah pendapatan asli daerah selain mendukung swasembada. Namun Agus mengingatkan kekuatan daya dukung lahan tebu untuk memasok bahan baku gula. “Sehingga pabrik ini betul-betul tidak cuma berdiri tapi tidak cukup bahan bakunya. Banyak terjadi di Sumbawa, di Sulawesi, pabrik berdiri bagus Tapi tebunya enggak mencukupi,” katanya.
Tujuan swasembada gula adalah menciptakan ketersediaan gula bagi masyarakat dengan harga wajar. Di sinilah, menurut Agus, perlu adanya penyelarasan tujuan pemerintah dengan keinginan petani yang berharap menangguk penghasilan tinggi.
“Pendapatan petani tinggi tidak semata-mata didapat dari harga jual gula yang tinggi. Tapi bagaimana produktivitas kebunnya dapat, dan rendemennya tidak cuma enam, tujuh, tujuh setengah persen,” katanya.
Menurut Agus, cuma butuh waktu dua tahun untuk membanguin pabrik. “Tapi membangun kebun bisa jadi perlu waktu sampai lima tahun,” katanya.
Industri gula nasional tidak hanya membutuhkan perluasan lahan tebu, namun juga memperhatikan kualitas varietas dan capaian produktivitas. “Di Jawa mengembangkan areal jauh lebih sulit daripada di luar Jawa. Di sisi lain, lahan Jawa memang cocoknya untuk tebu. Di luar Jawa banyak lahan, tapi tidak cocok untuk tebu,” kata Agus.
Menurut Agus, banyak pabrik gula yang tutup karena sulitnya mendapatkn pasokan tebu. “Di Kalimantan, kita bangun pabrik tebu bagus persis seperti PT Glemore. Hanya beroperasi lima tahun. Rendemen tebunya tiga persen, karena di area lahan gambut,” katanya.
Dengan budidaya yang baik dan benar, rendemen tebu bisa mencapai angka maksimal. “Begitu rendemen 12 persen, petani tidak bingung karema pendapatannya sudah besar. Itu yang terjadi di negara-negara kompetitor kita,” kata Agus.
Rendemen tebu di Thailand, Filipina, India, dan China sudah mencapai 12-14 persen. “Ini hal yang penting, sehingga petani tidak lagi bingung dengan harga gula,” kata Agus.
Agus menyarankan program Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) dilaksanakan terlebih dulu dengan intensif. CPCL adalah proses identifikasi, verifikasi, dan penetapan petani/kelompok tani serta lahan yang akan menerima bantuan program pertanian agar tepat sasaran, efektif, dan efisien.
Saat ini, menurut Agus, program CPCL tidak begitu diminati petani. “Walaupun sudah diberi bibit gratis, biaya tanam gratis, tapi yang berminat masih maju mundur. Nampaknya memang PR kita bersama, bagaimana teman-teman petani bisa memanfaatkan program ini,” katanya.
CPCL disebut Agus program luar biasa. “Luasannya masih banyak yang belum dipenuhi. Ini yang jadi PR kita, sehingga apa yang dicita-citakan pemerintah tentang swasembada gula ini bisa kita penuhi,” kata Agus.
Keinginan adanya pabrik gula baru di Jember ini dimunculkan oleh Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Pabrik Gula Glenmore Siswono, dalam acara konsolidasi petani di Rumah Makan Mangli Indah, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (25/4/2026).
Selama ini, petani di Jember banyak memasok tebu untuk pabrik gula di daerah lain, termasuk PG Glenmore di Banyuwangi. PG Glenmore sebenarnya termasuk pabrik gula baru. Rata-rata pabrik gula, termasuk PG Semboro di Jember, diwarisi dari masa kolonial Belanda. PG Glenmore dibangun pada 12 Desember 2012 dan resmi beroperasi dan melakukan giling perdana pada Agustus 2016.
“Saat ini di Glenmore selain pabrik gula, sudah dilakukan ground breaking untuk pembangunan (pabrik) bioetanol, yang pada intinya nanti kita juga akan berpartisipasi dalam swasembada energi,” kata Agus.
Industri gula nasional memang memiliki diversifikasi bisnis, kendati masih ada perbedaan pendapat dengan petani soal harga tetes tebu. “Teman-teman petani minta tetesnya ojo murah-murah. Ini adalah dinamika yang bisa kita bahas bersama. Tapi yang jelas kita tidak perlu resisten dulu. Kita jalani, kita lihat kelemahannya, apa yang perlu kita perbaiki,” kata Agus.
