Berita  

Sekjen Barisan Gus dan Santri Sambut Islah PBNU, Tekankan Kekuatan Spiritual NU

SekJen Barisan Gusdur, Yusuf Hidayat

Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM – Sekjen Barisan Gus dan Santri, Yusuf hidayat bersyukur dengan hasil Islah PBNU, Diharapkan upaya ini dapat menghadirkan solusi terbaik bagi PBNU, sehingga perpecahan internal tidak lagi menjadi konsumsi utama publik. Harapan besar juga datang dari para pengurus Nahdlatul Ulama, para kiai sepuh, serta putra-putri mahasiswa agar konflik yang terjadi dapat diselesaikan melalui musyawarah kubra.

Pada hakikatnya, kekayaan terbesar Nahdlatul Ulama bukan terletak pada materi, bisnis, atau sumber daya alam, melainkan pada kekayaan ulama dan pondok pesantren yang selama ini menjaga dan merawat tradisi NU. Kekuatan luar biasa NU bersumber dari pesantren dan para ulama yang memiliki keikhlasan, tanpa kepentingan apa pun selain menjadikan NU lebih baik serta memberi sumbangsih pemikiran bagi bangsa dan negara, sekaligus perhatian nyata terhadap kemaslahatan umat.

Gagasan-gagasan yang lahir dari pesantren baik di Ploso, Lirboyo, maupun Tebu Ireng merupakan warisan pemikiran luhur yang bersih dari kepentingan pribadi. Inilah kekuatan sejati NU yang seharusnya terus dirawat, bukan justru diabaikan.

Berbagai pertemuan telah dilakukan, bahkan jumlahnya mencapai belasan kali. Namun, salah satu opsi yang mulai mengemuka untuk mengatasi konflik ini adalah percepatan muktamar atau penyelenggaraan Muktamar Luar Biasa (MLB). Hal ini muncul karena belum terlihat kearifan bersama dari pihak-pihak yang bertikai, padahal harapan islah masih sangat besar.

Dalam tradisi NU, kepemimpinan tertinggi terutama Rais Aam memiliki posisi moral yang harus dihormati. Prinsip tawaduk, tabayun, dan kesediaan menerima klarifikasi merupakan bagian dari adab jam’iyah. Jika hal ini diabaikan, maka bukan hanya kepemimpinan yang dilemahkan, tetapi juga penghormatan terhadap para masyayikh dan ulama sepuh.

NU sejatinya terbiasa menghadapi dinamika pascamuktamar. Namun kondisi hari ini berbeda, karena konflik terjadi dalam perjalanan organisasi dan menjelang kurang dari satu tahun menuju muktamar. Ini menimbulkan pertanyaan besar: ada persoalan apa yang melampaui konteks organisasi semata?

Semangat dasar NU , DNA jam’iyah, adalah menjaga tradisi, kekuatan spiritual, dan silaturahim. Kekayaan NU bukan tambang, bukan proyek bisnis, dan bukan materi yang diperebutkan. Justru eksploitasi aspek material berpotensi menjadi pemicu perpecahan. Para pendahulu NU tidak pernah menghendaki organisasi ini terjebak dalam konflik kepentingan duniawi.

Jika islah tidak terwujud, maka yang terjadi adalah pengabaian terhadap kekayaan spiritual NU itu sendiri. Kondisi ini tentu memprihatinkan. Karena itu, berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok-kelompok peduli NU, hanya ingin menyampaikan pemahaman kepada publik bahwa apa yang terjadi bukan sekadar konflik biasa, melainkan konflik yang di luar nalar dan nilai-nilai tradisi Nahdlatul Ulama.

Need Help? Chat with us
Exit mobile version