Bank Indonesia mencatat transaksi perdagangan dalam Festival Ekonomi dan Keuangan Syariah (Fesyar) Jawa 2026 telah mencapai Rp35,5 miliar. Nilai tersebut melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp35 miliar, meski rangkaian kegiatan masih berlangsung di Surabaya, Jawa Timur.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Rifki Ismal mengatakan capaian perdagangan tersebut masih berpeluang bertambah hingga festival berakhir. Ia menyampaikan perkembangan itu saat Fesyar Jawa 2026 berlangsung di Surabaya, Minggu.
"Untuk perdagangan kita targetkan Rp35 miliar, sampai saat ini sudah lebih, Rp35,5 miliar," kata Rifki.
Pembiayaan melampaui target
Selain transaksi perdagangan, realisasi pembiayaan selama Fesyar Jawa 2026 juga telah melewati sasaran. BI mencatat pembiayaan mencapai Rp56 miliar, lebih tinggi daripada target Rp48 miliar.
Sementara itu, transaksi penjualan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tercatat sebesar Rp2,1 miliar. Nilai tersebut masih berada di bawah target penjualan UMKM yang ditetapkan sebesar Rp7,3 miliar.
Rifki menilai capaian transaksi bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan Fesyar. Menurut dia, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah secara menyeluruh.
"Transaksi betul, tetapi rantai nilai halal itu jauh lebih penting," ujarnya.
Tiga pilar pengembangan ekonomi syariah
Rifki menjelaskan, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah bertumpu pada tiga pilar. Pilar pertama adalah penguatan ekosistem rantai nilai halal yang terintegrasi dan memiliki daya saing.
Pilar berikutnya mencakup pengembangan pembiayaan syariah yang kompetitif serta peningkatan literasi ekonomi dan keuangan syariah. Ketiga aspek tersebut dipandang penting agar penguatan sektor syariah tidak hanya berfokus pada transaksi selama kegiatan festival.
Rantai nilai halal, kata Rifki, mencakup lebih dari perbankan dan UMKM. Ekosistem itu juga melibatkan pesantren, lembaga zakat, serta berbagai sektor usaha yang terhubung dari hulu sampai hilir.
Sertifikasi halal dinilai penting
Rifki menyebut rantai nilai halal berkontribusi sekitar 27 persen terhadap perekonomian nasional dengan pertumbuhan sebesar 6,2 persen. Namun, ia menilai ruang penguatan ekosistem tersebut masih terbuka, salah satunya melalui peningkatan sertifikasi halal.
Menurut dia, sertifikasi halal diperlukan agar pengukuran dan integrasi rantai nilai dapat dilakukan secara lebih presisi. Dengan demikian, keterhubungan antara pelaku usaha dan sektor-sektor pendukung dalam ekosistem halal dapat diperkuat.
BI menyelenggarakan Fesyar Jawa 2026 di Grand City Mall, Surabaya, pada 25-27 September 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan lebih dari 300 UMKM untuk memamerkan produk mereka. Hingga festival berakhir, transaksi perdagangan dan pembiayaan masih berpeluang mengalami perubahan dari capaian sementara yang telah dicatat.
Sumber: ANTARA News – Finansial
