INFOJAWATIMUR.COM – Universitas Hayam Wuruk Perbanas (UHW Perbanas) mendorong Kelompok Tani Ternak (KTT) Bina Makmur di Desa Sambirejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, meningkatkan nilai ekonomi susu sapi melalui program hilirisasi produk.
Pendampingan dilakukan tidak hanya pada proses pengolahan susu, tetapi juga melalui penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG), penguatan manajemen usaha, pembukuan, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), hingga pemasaran digital.
Program tersebut menjadi salah satu upaya mengurangi ketergantungan peternak terhadap penjualan susu segar sekaligus membuka peluang hadirnya produk olahan dengan nilai tambah lebih tinggi.

Ketua KTT Bina Makmur, Suyatno mengatakan, selama ini susu sapi hasil peternakan anggota kelompok mayoritas dijual dalam kondisi segar kepada koperasi dengan harga sekitar Rp6.000 per liter. Sebagian susu juga dibeli langsung oleh konsumen perorangan.
“Jualan susu saya dan orang-orang sini biasanya ke koperasi. Ada juga dari perorangan yang beli langsung ke kami,” kata Suyatno.
Pola penjualan tersebut membuat pendapatan peternak sangat bergantung pada harga susu segar. Di sisi lain, pengelolaan administrasi dan pembukuan usaha selama ini juga belum dilakukan secara terperinci.
Pendampingan dari tim UHW Perbanas kemudian membuka alternatif baru. Susu hasil perahan sapi yang sebelumnya lebih banyak langsung dijual kini mulai dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang memiliki masa simpan lebih panjang dan potensi harga jual lebih tinggi.
Menurut Suyatno, anggota kelompok mulai memproduksi sejumlah makanan berbahan dasar susu setelah mendapatkan pelatihan dari tim pengabdian masyarakat UHW Perbanas.
“Kelompok Bina Makmur ini sudah memulai untuk mengolah susu menjadi permen susu, keripik susu, dan dodol susu. Itu dilakukan dari hasil pelatihan dan pendampingan dosen UHW Perbanas yang ke sini,” ujarnya.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UHW Perbanas, Dr. Putri Wulanditya, S.E., M.Ak., mengatakan potensi produksi susu sapi di KTT Bina Makmur cukup besar sehingga perlu dikembangkan agar tidak berhenti sebagai komoditas bahan mentah.
Karena itu, program pendampingan dirancang menggunakan pendekatan terpadu, mulai dari peningkatan kemampuan produksi hingga pengelolaan usaha dan pemasaran.
“Pada aspek produksi, mitra KTT Bina Makmur kami beri pelatihan teknologi pengolahan susu menjadi permen susu, dodol susu, dan keripik susu. Program ini juga mencakup penyediaan dan pemanfaatan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan produksi skala kecil,” jelas Putri saat dikonfirmasi, Sabtu (8/8/2026).
Untuk menunjang proses produksi, tim UHW Perbanas turut memberikan sejumlah peralatan dan bahan pendukung kepada kelompok peternak. Beberapa di antaranya berupa freezer box, oven tangkring, kompor gas, alat pemotong kerupuk, serta perangkat produksi lainnya.
Intervensi juga dilakukan pada sisi tata kelola usaha. Anggota KTT Bina Makmur mendapatkan pendampingan mengenai pencatatan keuangan sehingga arus pemasukan, pengeluaran, biaya produksi, hingga keuntungan usaha dapat terpantau lebih jelas.
“Dari sisi manajemen usaha, kami latih dan dampingi kelompok Bina Makmur untuk melakukan pembukuan usaha. Selain itu, ada pelatihan pemasaran digital hingga penyusunan SOP saat produksi dan promosi agar terkontrol dengan baik,” terangnya.
Melalui penguatan produksi dan pemasaran tersebut, UHW Perbanas berharap olahan susu KTT Bina Makmur dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Pemanfaatan kanal digital juga diharapkan mampu memperkenalkan produk sekaligus membangun identitas lokal Desa Sambirejo dan kawasan Wonosalam sebagai sentra produk olahan susu.
Program pemberdayaan tersebut mendapat dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026.
Selain Dr. Putri Wulanditya, tim dosen UHW Perbanas yang terlibat dalam kegiatan tersebut yakni Chitra Laksmi Rithmaya, S.E., M.M., serta Ari Cahaya Puspitaningrum, S.Kom., M.Kom.
Melalui hilirisasi tersebut, susu sapi yang sebelumnya dominan dipasarkan sebagai bahan mentah diharapkan berkembang menjadi produk bernilai tambah, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi kelompok peternak di Sambirejo, Wonosalam.
















