Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM – Komunitas Vegan Squad Surabaya turut ambil bagian dalam kegiatan Sambang TBM Crita Nirwana sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan literasi kesehatan keluarga melalui pendekatan yang edukatif dan menyenangkan.
Perwakilan Vegan Squad Surabaya, Rea, menyampaikan bahwa keterlibatan mereka dilandasi oleh kesamaan nilai dengan kegiatan tersebut.

“Acara ini sangat menarik dan bersifat positif karena mampu meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus membuka ruang edukasi kesehatan,” ujarnya.
Menurut Rea, literasi kesehatan penting dikenalkan sejak usia anak karena masa kanak-kanak merupakan periode emas dalam kehidupan manusia. Pola makan yang dibiasakan sejak dini akan membentuk kualitas kesehatan di masa depan.
“Jika sejak kecil anak terbiasa mengonsumsi makanan sehat, maka saat dewasa mereka juga akan tumbuh lebih sehat. Sebaliknya, kebiasaan makan yang kurang baik bisa berdampak pada masalah kesehatan di usia remaja maupun dewasa,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa pola makan sehat tidak hanya berpengaruh pada kondisi fisik, tetapi juga pada kesehatan mental dan kestabilan emosi anak. Anak yang sering sakit, menurutnya, cenderung mengalami gangguan pada tumbuh kembang serta kondisi emosional.
Dalam kegiatan tersebut, Vegan Squad Surabaya membagikan edukasi kepada orang tua dan anak mengenai konsep hidup vegan yang berkesadaran. Rea menegaskan bahwa vegan bukan sekadar pola makan, tetapi juga bentuk kontribusi terhadap kelestarian lingkungan.
“Beberapa penelitian menunjukkan bahwa industri peternakan menjadi salah satu penyumbang utama pemanasan global. Dengan pola hidup vegan, kita ikut menjaga kesehatan sekaligus kelangsungan planet bumi,” ungkapnya.
Edukasi hidup sehat, lanjut Rea, bisa disampaikan dengan cara yang menyenangkan melalui TBM. Salah satunya dengan menghadirkan buku-buku seperti Panduan Vegan Pemula yang mudah dipahami oleh masyarakat luas.
Namun demikian, ia mengakui masih banyak tantangan dalam mengedukasi masyarakat.
Kurangnya kepedulian terhadap kesehatan keluarga, minimnya pembiasaan konsumsi sayur sejak dini, serta tingginya konsumsi makanan ultra-proses menjadi hambatan utama.
“Makanan yang dianggap enak belum tentu sehat, tapi sering kali hal ini diabaikan,” katanya.
Rea berharap TBM dapat terus berkembang menjadi pusat literasi kesehatan keluarga, dengan kegiatan-kegiatan yang membuka wawasan masyarakat secara berkelanjutan.
Sebagai penutup, ia berpesan kepada keluarga agar lebih peduli terhadap kesehatan fisik dan mental anak.
“Biasakan makanan rumahan dengan gizi seimbang, perbanyak sayur dan buah, kurangi makanan ultra-proses, dan mulai beralih ke gaya hidup vegan yang berkesadaran demi kesehatan keluarga dan masa depan bumi,” pungkasnya.



















