Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menyatakan Kementerian PU mempercepat normalisasi sungai dan perbaikan tanggul di lima daerah Provinsi Aceh. Langkah tersebut dilakukan untuk memulihkan wilayah terdampak banjir sekaligus mengurangi risiko banjir susulan pada musim hujan.
Penanganan darurat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I dipusatkan di Kabupaten Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Utara, Nagan Raya, dan Pidie Jaya. Dody mengatakan pekerjaan tidak hanya diarahkan untuk memulihkan kondisi setelah bencana, tetapi juga memperkuat ketahanan infrastruktur menghadapi potensi bencana berikutnya.
Pembersihan sungai dan penguatan tanggul
Dody menyampaikan jajaran Direktorat Sumber Daya Air masih melakukan pembersihan sungai dan muara untuk memperlancar aliran air. Kementerian PU juga mengerahkan alat berat guna menormalisasi alur sungai, mengeruk sedimen, serta memperbaiki tanggul di sejumlah lokasi.
Kepala BWS Sumatera I Asyari mengatakan pihaknya meningkatkan kesiapsiagaan dan merespons kejadian banjir di seluruh kabupaten/kota di Aceh. Setelah penanganan darurat, pemerintah akan mempercepat pekerjaan permanen untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan perlindungan masyarakat.
Di Aceh Tenggara, hingga 4 November 2026, satu unit ekskavator digunakan untuk mencegah luapan susulan Sungai Lawe Bulan dan Lawe Kihing. Pekerjaan berupa normalisasi alur serta penguatan tanggul dilakukan di Desa Kuning I. Penanganan kemudian diarahkan ke Desa Pinding, Kecamatan Bambel, melalui pengerukan sedimen dan perapian alur agar aliran dari hulu tidak mengancam kawasan pertanian dan permukiman.
Penanganan di Gayo Lues dan Aceh Utara
Di Gayo Lues, penanganan dilakukan setelah banjir sempat memutus akses antar-desa. Pada 3-4 November 2026, satu unit ekskavator dioperasikan untuk menormalisasi alur dan memperbaiki tanggul Sungai Pangur di Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang, sekitar ruas jalan RSUD Gayo Lues.
Perbaikan tanggul tersebut ditujukan untuk menutup bagian yang tergerus arus deras sehingga air dapat kembali tertampung di alur utama.
Sementara itu, di Aceh Utara, pekerjaan difokuskan pada dampak meluapnya Sungai Peuto dan kerusakan infrastruktur pintu air. Kondisi tersebut sebelumnya merendam rumah warga serta badan jalan Lhoksukon–Cot Girek.
Pada 3 dan 4 November 2026, Tim Satgas menempatkan satu unit alat berat Komatsu di Kecamatan Syamtalira Aron. Alat tersebut digunakan untuk membersihkan dan menormalisasi saluran pembuangan di kawasan Kr. Pase, dari STA 3+200 hingga STA 3+260, agar genangan dari permukiman lebih cepat mengalir menuju muara.
Tanggul darurat di Nagan Raya dan Pidie Jaya
Di Nagan Raya, alat berat ekskavator dikerahkan pada 3-4 November 2026 untuk membangun tanggul darurat dan menormalisasi alur Sungai Krueng Seunagan. Pekerjaan berlangsung di Desa Krueng Cut, Kecamatan Beutong, yang berada di dekat jalur lintas Meulaboh–Beutong. Penanganan itu dilakukan untuk mengurangi tekanan arus terhadap tebing sungai yang semakin mendekati permukiman di Desa Pulo Raga dan Desa Krueng Cut.
Adapun di Pidie Jaya, dua unit ekskavator dioperasikan secara bersamaan di Desa Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, pada 3 dan 4 November 2026. Pekerjaan difokuskan pada perbaikan tanggul jebol dan perapian alur Krueng Meureudu setelah banjir luapan pada akhir Oktober sempat melumpuhkan Jalan Nasional Banda Aceh–Medan.
Kementerian PU menyatakan akan tetap siaga selama 24 jam bersama BPBD, TNI, Polri, dan pemerintah daerah. BWS Sumatera I juga memantau Tinggi Muka Air serta menyiapkan bahan banjiran, seperti geobag dan sandbag, untuk menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem susulan di wilayah hulu.
Sumber: ANTARA News – Terkini



















