Berita  

Rosan: DSI Tidak Akan Mengganggu Hubungan Komersial Eksportir dan Pembeli

Danantara Sumberdaya Indonesia memulai fokus pada batu bara, CPO, dan ferroaloy dengan nilai ekspor hampir 70 miliar dolar AS

Sertifikatin 1

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani memastikan kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) tidak akan mengganggu hubungan komersial yang telah terjalin antara eksportir dan pembeli. Perusahaan itu disebut tetap menghormati kontrak-kontrak perdagangan, termasuk perjanjian jangka panjang.

Pernyataan tersebut disampaikan Rosan dalam Peluncuran Babak Baru Tata Kelola Ekspor SDA di Jakarta, Senin. Ia menjelaskan, DSI mulai beroperasi secara aktif pada 1 Juni 2026 dan menjadi bagian dari perubahan pengelolaan ekspor komoditas strategis nasional.

Menurut Rosan, pembentukan DSI diarahkan untuk memperbaiki tata kelola sumber daya alam agar berlangsung lebih baik, transparan, serta mampu menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. Dalam tahap awal, perusahaan tersebut akan menjalankan fungsi evaluasi, pemantauan, dan penguatan transparansi transaksi.

Kontrak ekspor tetap dihormati

Rosan meminta pelaku usaha tidak ragu melakukan ekspor secara langsung. Ia menegaskan DSI tidak dibentuk untuk mengambil alih hubungan dagang yang sudah berlangsung antara eksportir dan pembeli.

“Kontrak-kontrak yang jangka panjang” tetap dihormati, kata Rosan. Ia menambahkan, pelaksanaan kebijakan DSI akan dilakukan secara bertahap, terukur, dan disesuaikan dengan kesiapan agar arus perdagangan serta hubungan komersial yang ada tidak terganggu.

Dengan pendekatan tersebut, DSI pada fase awal lebih menitikberatkan pada pengawasan dan transparansi transaksi. Rosan menyebut langkah itu penting untuk memastikan pengelolaan ekspor komoditas strategis berjalan dengan tata kelola yang lebih kuat.

Tiga komoditas menjadi fokus awal

Rosan, yang juga menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), mengatakan DSI untuk sementara berfokus pada tiga komoditas strategis nasional. Ketiganya adalah batu bara, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), dan ferroaloy.

Ketiga komoditas itu dipilih karena memiliki nilai ekspor yang besar. Secara keseluruhan, nilai ekspornya disebut hampir mencapai 70 miliar dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan angka yang disampaikan Rosan, ekspor batu bara mencapai sekitar 30,35 miliar dolar AS. Sementara itu, nilai ekspor CPO berada di kisaran 22,67 miliar dolar AS dan ferroaloy sekitar 16,43 miliar dolar AS.

Penguatan tata kelola ekspor

Rosan menilai besarnya nilai ekspor tiga komoditas tersebut memperlihatkan posisi pentingnya bagi perekonomian Indonesia. Karena itu, penguatan tata kelola dinilai diperlukan agar manfaat ekonomi yang dihasilkan dapat ditingkatkan.

Ia mengatakan DSI dibentuk untuk meningkatkan tata kelola batu bara, CPO, dan ferroaloy, bukan untuk mengubah mekanisme hubungan dagang secara mendadak. Implementasi yang bertahap dan berbasis kesiapan diharapkan menjaga kelancaran perdagangan selama proses pengawasan dan transparansi diperkuat.

Melalui fokus awal pada tiga komoditas tersebut, DSI akan memulai babak baru pengelolaan ekspor sumber daya alam dengan menempatkan transparansi transaksi sebagai salah satu perhatian utama.

Sumber: ANTARA News – Terkini

Home Trending Kontak