Biar Tak Boncos, Pemuda Karang Taruna Sawahan Belajar Hitung HPP dan Pembukuan Digital

Pentingnya menghitung HPP

Sertifikatin 1

INFOJAWATIMUR.COM, SURABAYA – Jualan boleh laris, tetapi belum tentu menghasilkan keuntungan. Salah menghitung modal hingga mencampur uang pribadi dengan uang usaha bisa membuat pelaku usaha pemula tidak menyadari kondisi sebenarnya dari bisnis yang dijalankan.

Persoalan itulah yang dibedah bersama para pemuda Karang Taruna se-Kecamatan Sawahan, Surabaya, dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi S1 Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (10/9/2026).

Bertempat di Pendopo Kecamatan Sawahan, peserta diajak belajar dari persoalan paling mendasar dalam menjalankan usaha: memisahkan uang pribadi dan uang usaha serta menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan benar.

Dosen S1 Manajemen Unesa Agus Frianto, ST, SE, MM., yang menjadi narasumber mengajak peserta membongkar kebiasaan yang masih sering dilakukan pelaku usaha pemula, yakni menyatukan seluruh uang dalam satu tempat tanpa pencatatan yang jelas.

Akibatnya, pelaku usaha bisa merasa dagangannya laris, padahal keuntungan yang diperoleh belum tentu sesuai dengan perkiraan.

“Kita belajar hal paling dasar dulu, yaitu menghitung HPP. Misalnya bikin es teh, berapa modal gula, teh, es batu, dan gelasnya? Kalau nggak dihitung, bisa-bisa jual Rp2.000 tapi modalnya Rp2.500. Ya boncos dong,” ujar Agus yang disambut tawa peserta.

Contoh sederhana tersebut membuat materi pengelolaan keuangan lebih mudah dipahami. Peserta diajak melihat bahwa penentuan harga jual tidak cukup hanya mengikuti harga pasar, tetapi harus didasarkan pada perhitungan biaya yang dikeluarkan.

Langsung Praktik Pakai Excel

Tak berhenti pada teori, peserta juga diajak mempraktikkan pencatatan keuangan menggunakan Microsoft Excel. Mereka belajar membuat tabel sederhana untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran hingga memantau arus kas usaha.

Dengan rumus dasar, transaksi yang sebelumnya hanya dicatat di buku atau bahkan mengandalkan ingatan mulai diarahkan menjadi pencatatan yang lebih tertib.

Salah seorang anggota Karang Taruna yang telah memiliki usaha kecil mengaku pencatatan transaksi selama ini masih dilakukan secara sederhana.

“Saya biasanya cuma catat di buku kecil atau bahkan hafalan saja. Ternyata ribet kalau sudah banyak transaksi. Habis ikut ini, saya jadi ingin langsung bikin Excel buat warung saya,” ujarnya.

Pelatihan tersebut menjadi bagian dari program bertajuk “Karang Taruna Cakap Digital & Mandiri Ekonomi”. Penguatan kemampuan pengelolaan keuangan ditempatkan sebagai materi awal sebelum peserta mendapatkan pendampingan pada aspek usaha lainnya.

PIC PKM S1 Manajemen Unesa, Khoirur Rozaq, S.E.Sy., M.M., mengatakan pencatatan keuangan menjadi fondasi yang harus dibenahi sebelum pelaku usaha berbicara lebih jauh mengenai pengembangan pemasaran.

“Kalau catatan keuangannya berantakan, mau kasih strategi pemasaran apa pun juga percuma. Makanya, kami bekali dulu skill pembukuan digitalnya,” kata Rozaq.

Pelatihan manajemen keuangan tersebut merupakan modul pertama dari enam rangkaian pelatihan yang disiapkan bagi Karang Taruna di Kecamatan Sawahan.

Melalui rangkaian pendampingan itu, para pemuda diharapkan tidak hanya terdorong memulai usaha, tetapi juga memiliki kemampuan mengelolanya sejak dari hal paling mendasar.

Sebab, usaha yang terlihat ramai belum tentu sehat. Dari menghitung segelas es teh hingga mencatat setiap rupiah yang keluar dan masuk, disiplin mengelola keuangan menjadi salah satu pijakan agar usaha tidak sekadar laris, tetapi juga menghasilkan keuntungan.

 

Home Trending Kontak