Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM –
Di tengah keberagaman ekspresi seni yang hadir dalam kegiatan “Warna Warni Kreativitas Seni: Rumah & Kampung Kreatif”, tradisi tutur dan tata laku Jawa mendapat ruang untuk diperkenalkan melalui suguhan Pawiyatan Pambiwara atau kelas MC Jawa.
Dalam penampilannya, Pawiyatan Pambiwara menghadirkan cuplikan prosesi temu pengantin Jawa. Rangkaian tersebut menampilkan tilik pitik atau mapak/jemput besan, yang kemudian dilanjutkan dengan sungkeman, sebagai bagian dari tata acara yang berkaitan dengan unggah-ungguh dan penghormatan.

Peragaan tersebut tidak hanya memperlihatkan kemampuan peserta dalam menyampaikan tata acara menggunakan bahasa Jawa, tetapi juga keterkaitan antara pilihan tutur, tata laku, urutan prosesi dan sikap yang menyertai setiap tahapan.
Tilik pitik menjadi bagian awal dari cuplikan prosesi, sebelum rangkaian berlanjut pada sungkeman. Melalui tahapan tersebut, peserta memperagakan tata acara yang berjalan bersama sikap dan unggah-ungguh dalam sebuah prosesi temu pengantin.

Pengajar Pawiyatan Pambiwara MC Jawa, Ki Madiro, mengatakan penampilan dalam kegiatan yang digelar Disbudporapar Kota Surabaya tersebut diikuti oleh peserta didik yang baru mengikuti pembelajaran.
“Dalam kegiatan ini, Pawiyatan Pambiwara atau MC Jawa menampilkan cuplikan prosesi temu pengantin, yaitu tilik pitik atau jemput besan yang dilanjutkan dengan sungkeman. Yang tampil adalah siswa yang baru,” ujar Ki Madiro.

Menurutnya, keterlibatan siswa baru dalam penampilan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa senang sekaligus semangat dalam mengikuti pembelajaran sebagai pambiwara.
“Diharapkan bisa lebih senang dan semangat dalam belajar sebagai pambiwara,” katanya.
Melalui peragaan tersebut, Pawiyatan Pambiwara membawa salah satu bentuk tradisi Jawa ke dalam ruang kreatif masyarakat perkotaan. Tradisi diperkenalkan tidak semata melalui penjelasan, tetapi melalui praktik tata tutur dan tata laku yang menjadi bagian dari sebuah prosesi.

Pembelajaran pambiwara juga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara di depan umum. Di dalamnya terdapat pembelajaran mengenai pilihan bahasa, tata krama, urutan acara serta sikap yang tepat ketika mengantarkan sebuah prosesi.
Ki Madiro menambahkan, pembelajaran MC Jawa di Pawiyatan Pambiwara yang berada di bawah naungan Disbudporapar Kota Surabaya tidak dipungut biaya.
“Belajar MC Jawa di Pawiyatan Pambiwara di bawah naungan Disbudporapar Kota Surabaya ini tidak dipungut biaya, alias gratis,” ujarnya.
Kehadiran Pawiyatan Pambiwara dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang bagi peserta didik untuk mengenal, mempelajari sekaligus mempraktikkan seni tutur dan tata laku Jawa.
Dari tilik pitik hingga sungkeman, cuplikan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat diperkenalkan melalui proses belajar dan praktik. Ketika dipelajari dan dipraktikkan kembali, tradisi memiliki ruang untuk terus dikenal dan hadir di tengah kehidupan masyarakat.

















