INFOJAWATIMUR.COM — Suasana aula Balai Latihan Kerja (BLK) Sidoarjo tampak berbeda pagi itu.
Puluhan pelaku usaha kecil menengah (UMKM) duduk rapi di depan laptop, belajar cara membuat katalog digital dan mengelola toko daring.
Di antara mereka, Sulastri, pemilik usaha kripik singkong dari Porong, tampak antusias.
“Dulu saya pikir jualan online itu rumit,” katanya sambil menata foto produknya. “Sekarang saya tahu, yang penting mau belajar.”
Pelatihan seperti ini kini makin sering terlihat di berbagai kabupaten di Jawa Timur. Melalui kolaborasi Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur dengan Digital Entrepreneurship Academy (DEA) Kominfo, para pelaku UMKM mendapat bekal keterampilan digital — mulai dari pembuatan konten, strategi promosi online, hingga sistem pembayaran non-tunai.
Menurut data terbaru Dinas Koperasi dan UKM Jatim, lebih dari 1.200 pelaku UMKM telah mengikuti pelatihan vokasi digital sepanjang kuartal ketiga tahun ini. Program tersebut bertujuan membantu pelaku usaha naik kelas, terutama dalam menghadapi persaingan digital yang semakin ketat.
“Digitalisasi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan,” ujar Andromeda Qomariah, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur.
“Kami ingin UMKM di daerah tak hanya bertahan, tapi juga berkembang melalui ekosistem digital yang inklusif.”
Pelatihan ini tak berhenti di ruang kelas. Peserta juga difasilitasi untuk langsung menerapkan hasil belajar mereka di lapangan, termasuk mengelola akun marketplace, membuat konten media sosial, dan memanfaatkan pembayaran digital seperti QRIS.
Bagi sebagian pelaku usaha kecil, perubahan ini menjadi tantangan tersendiri. Namun, justru dari tantangan itulah tumbuh semangat baru untuk beradaptasi.
Mereka yang dulu ragu menyentuh ponsel pintar, kini justru antusias menganalisis performa konten dan mempelajari perilaku konsumen digital.
Transformasi ini juga selaras dengan target nasional 30 juta UMKM go digital pada tahun 2025.
Sebagai provinsi dengan jumlah UMKM terbanyak di Indonesia, Jawa Timur diharapkan menjadi motor penggerak utama perubahan ini — terutama lewat pelatihan vokasi dan pendampingan berbasis komunitas.
“Yang penting bukan seberapa canggih teknologinya,” kata Sulastri sambil menutup laptop.
“Tapi seberapa berani kita belajar hal baru.”
Kalimat sederhana itu menyiratkan makna besar: bahwa perubahan digital bukan hanya soal perangkat dan platform, tapi tentang mentalitas tumbuh dan keberanian untuk terus belajar.
