Berita  

Mutiara Sani Ajak Kaum Muda Menyelami Gagasan Asrul Sani

Pameran di Taman Ismail Marzuki menghadirkan arsip, diskusi lintas generasi, pemutaran film, dan pembacaan karya pada 21–30 Agustus 2026.

Ketua Yayasan Pelaku Sanggar Pelakon Mutiara Sani mengajak generasi muda untuk mengenal lebih dekat pemikiran Asrul Sani melalui karya sastra, teater, dan film yang ditinggalkannya. Menurut dia, Asrul Sani tidak cukup dikenang hanya sebagai tokoh sejarah kebudayaan Indonesia.

Ajakan tersebut disampaikan Mutiara saat membuka pameran “Asrul Sani: Berkelana ke Masa Lampau, Terdampar ke Masa Kini” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat. Pameran itu berlangsung pada 21–30 Agustus 2026 di Teater Asrul Sani dan Teater Sjuman Djaya.

Menghidupkan kembali gagasan Asrul Sani

Mutiara berharap pameran tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau penghormatan sesaat. Ia mendorong pengunjung, terutama kaum muda, untuk kembali membaca, memahami, dan menerapkan semangat yang tercermin dalam pemikiran Asrul Sani.

Ia menyebut Asrul Sani memandang seni bukan hanya sebagai sarana berekspresi, melainkan juga sebagai bentuk tanggung jawab moral. Pandangan itu tercermin dalam karya-karyanya yang mengangkat nilai kemanusiaan, kebangsaan, serta refleksi terhadap kehidupan.

Karya Asrul Sani, menurut Mutiara, juga memuat gagasan tentang cinta, perjuangan, kejujuran, dan tanggung jawab manusia. Pemikiran kritis, keberanian berkarya, serta komitmen terhadap kemanusiaan dan kebangsaan yang ditunjukkan Asrul Sani dinilai dapat menjadi teladan bagi generasi masa kini.

Arsip dan program lintas generasi

Pameran yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta itu menampilkan arsip serta dokumentasi perjalanan kreatif Asrul Sani dalam perkembangan kebudayaan dan perfilman Indonesia. Selain melihat materi arsip, pengunjung dapat mengikuti sejumlah program pendukung.

Rangkaian kegiatan tersebut meliputi diskusi lintas generasi, pemutaran film, dan pembacaan karya. Kehadiran berbagai program itu membuat pameran tidak hanya berfungsi sebagai ruang pengenangan, tetapi juga sebagai sarana untuk mempertemukan kembali karya dan gagasan Asrul Sani dengan publik.

Mutiara, yang merupakan istri mendiang Asrul Sani, menilai momentum pameran dapat digunakan untuk mengajak masyarakat memahami kembali nilai yang diperjuangkan tokoh tersebut. Dengan demikian, pengenalan terhadap Asrul Sani tidak berhenti pada nama dan reputasinya, tetapi berlanjut pada pembacaan atas karya serta pemikirannya.

Jejak Asrul Sani dalam sastra dan film

Asrul Sani dikenal sebagai penyair, penulis, penerjemah, seniman teater, pendidik, penulis skenario, sutradara, dan penggerak institusi kebudayaan. Ia termasuk salah satu sastrawan pelopor Angkatan ’45.

Dalam dunia sastra, Asrul Sani menerbitkan kumpulan puisi “Tiga Menguak Takdir” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin. Sementara di bidang perfilman, namanya terkait dengan sejumlah film, antara lain “Lewat Djam Malam” yang dirilis pada 1954, “Apa Jang Kau Tjari, Palupi?” pada 1969, “Kejarlah Daku Kau Kutangkap” pada 1986, dan “Nagabonar” pada 1987.

Pameran di Taman Ismail Marzuki menjadi ruang untuk menelusuri perjalanan kreatif tersebut sekaligus memperkenalkan kembali gagasan Asrul Sani kepada lintas generasi. Bagi Mutiara, pemahaman terhadap karya dan nilai yang dibawa Asrul Sani penting agar warisan pemikirannya tetap dibaca dan dihidupkan dalam kehidupan masa kini.

Sumber: ANTARA News – Terkini

Home Trending Kontak
Exit mobile version