Sidoarjo, INFOJAWATIMUR.COM – Di tengah maraknya konsep pernikahan modern, rangkaian prosesi siraman sebagai bagian dari tradisi adat Jawa kini mulai jarang dijumpai. Namun, keluarga Adi Sanjaya dan Ngatina (Tina) tetap memilih melestarikan warisan budaya tersebut melalui prosesi siraman calon pengantin putri, Noor Mifta Kurahma Putri, menjelang pernikahannya dengan Ardi Wahyu Romadhon. Prosesi sakral itu digelar di kediaman keluarga di Jalan H. Syukur VI Kavling Blok D Nomor 50, Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Minggu (2/8/2026).
Prosesi yang dimulai pukul 14.00 WIB berlangsung khidmat dengan balutan adat Jawa yang kental. Lantunan doa, suasana haru, dan kebersamaan keluarga besar menyelimuti setiap tahapan prosesi, sementara para tamu undangan mengikuti jalannya acara dengan penuh khidmat sebagai bentuk doa dan restu bagi kedua calon mempelai.
Siraman merupakan salah satu rangkaian penting dalam adat pernikahan Jawa yang melambangkan penyucian lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Setiap tahapan tidak hanya menjadi simbol tradisi, tetapi juga mengandung doa, harapan, dan nasihat kehidupan agar kedua mempelai senantiasa memperoleh keselamatan, keberkahan, kebahagiaan, serta rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Rangkaian adat diawali dengan prosesi pasang teple oleh ayah calon pengantin, Adi Sanjaya, sebagai perlambang penerang jalan kehidupan bagi putrinya. Selanjutnya, ibu calon pengantin, Ngatina (Tina), melaksanakan prosesi pari rong uli yang bermakna doa agar kedua mempelai senantiasa diberi rezeki yang berkah, kecukupan, dan kemuliaan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Suasana haru semakin terasa saat Noor Mifta Kurahma Putri bersimpuh menjalani sungkeman di hadapan kedua orang tuanya. Dengan penuh takzim, ia memohon doa restu sebagai bekal mengarungi kehidupan baru. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ngracik Tirta Perwitasari, yaitu meracik air siraman sebagai simbol kesucian lahir dan batin.
Prosesi inti siraman dilakukan secara bergantian oleh kedua orang tua, para sesepuh keluarga, dan ditutup oleh perias. Setelah itu dilanjutkan dengan sesuci menggunakan air dalam kendhi, pecah pamor, tigas rikma yang disusul tanem rikma, gendhongan, hingga dodol dawet yang sarat akan filosofi tentang penyucian diri, kasih sayang orang tua, serta doa agar kehidupan rumah tangga kelak dipenuhi keberkahan dan rezeki yang lancar. Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan wilujengan dan ramah tamah bersama keluarga serta para tamu undangan.
Adi Sanjaya mengatakan, keluarganya sengaja mempertahankan seluruh rangkaian prosesi siraman sebagai bentuk ikhtiar melestarikan tradisi adat Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.
“Kami ingin ikut melestarikan budaya Jawa yang menjadi warisan leluhur. Semoga doa-doa yang tersirat dalam setiap prosesi ini menjadi berkah dan mengantarkan ananda kami menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia, harmonis, serta senantiasa mendapat ridha Allah SWT,” ujar Adi Sanjaya.
Calon pengantin putri, Noor Mifta Kurahma Putri, mengaku bersyukur dapat menjalani seluruh rangkaian prosesi siraman yang telah dipersiapkan keluarganya. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menghormati orang tua sekaligus menjaga warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur.
“Saya sangat senang bisa menjalani prosesi siraman ini. Selain memiliki makna yang sangat sakral, saya juga merasa bangga dapat ikut melestarikan budaya Jawa yang diwariskan oleh para leluhur. Semoga seluruh doa yang dipanjatkan dalam setiap prosesi menjadi keberkahan bagi perjalanan rumah tangga kami nanti,” ungkap Noor Mifta Kurahma Putri.
Sementara itu, Ardi Wahyu Romadhon mengaku turut merasakan suasana haru selama prosesi berlangsung. Baginya, sungkeman menjadi momen yang paling menyentuh karena memperlihatkan besarnya kasih sayang, pengorbanan, dan restu orang tua sebelum anak melangkah memasuki kehidupan rumah tangga.
Penyelenggaraan prosesi siraman ini didukung oleh Dharendra Creative sebagai Wedding Organizer (WO), Faridas Wedding sebagai penata rias pengantin (MUA), D’Ayu Catering sebagai penyedia hidangan, Sani Picture sebagai fotografer, serta sejumlah vendor pendukung lainnya yang berkolaborasi menyukseskan seluruh rangkaian acara.
Perwakilan Dharendra Creative, Dennis, menyampaikan apresiasi kepada keluarga calon pengantin atas kepercayaan yang diberikan serta kepada seluruh vendor yang telah bekerja sama sehingga seluruh prosesi dapat berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh kekhidmatan.
Prosesi siraman yang dijalani Noor Mifta Kurahma Putri menjadi bukti bahwa tradisi adat Jawa tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Lebih dari sekadar seremoni menjelang pernikahan, setiap tahapan mengandung nilai penghormatan kepada orang tua, doa, kebersamaan, serta tuntunan hidup yang patut terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.



















