PPNS dan Desa Gili Ketapang Letakkan Batu Pertama Pengembangan Sarana Pengolahan Sampah TPS3R

Sertifikatin 1

INFOJAWATIMUR.COM –  Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) bersama Pemerintah Desa Gili
Ketapang dan BUMDes Gili Bahari Makmur melaksanakan kegiatan peletakan batu pertama
pengadaan sarana pengolahan sampah TPS3R di Pulau Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih,
Kabupaten Probolinggo, pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah terpadu melalui penelitian bertajuk “Gili Ketapang Zero-Waste Living Lab: Transformasi Pengelolaan Sampah Wisata melalui Kolaborasi
BUMDes–Masyarakat–Perguruan Tinggi” yang diketuai oleh Urip Mudjiono, S.T., M.T.

Kegiatan peletakan batu pertama dilaksanakan di tanah milik Desa Gili Ketapang dan menjadi
simbol dimulainya proses pengadaan serta pengembangan sarana pengolahan sampah yang
direncanakan sebagai bagian dari penguatan sistem Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse,
Recycle (TPS3R). Sarana ini diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan pengelolaan sampah
berbasis masyarakat sekaligus mendukung upaya penanganan permasalahan sampah di kawasan
pesisir dan destinasi wisata Pulau Gili Ketapang.

Prosesi peletakan batu pertama dilakukan  Monir selaku Kepala Desa Gili Ketapang
bersama Ketua Pelaksana Kegiatan, Urip Mudjiono, S.T., M.T. Kegiatan tersebut juga diikuti
oleh perwakilan BUMDes Gili Bahari Makmur serta komunitas peduli sampah pesisir yang telah
dibentuk dan disahkan oleh Pemerintah Desa Gili Ketapang. Keterlibatan berbagai unsur tersebut
mencerminkan semangat kolaborasi dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang
tidak hanya mengandalkan satu pihak, melainkan dilaksanakan secara bersama-sama oleh
pemerintah desa, masyarakat, BUMDes, dan perguruan tinggi.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Urip Mudjiono, S.T., M.T., menyampaikan bahwa pengadaan sarana
TPS3R merupakan bagian dari upaya membangun model pengelolaan sampah yang lebih terpadu
dan berkelanjutan di Pulau Gili Ketapang. Melalui konsep Zero-Waste Living Lab, kawasan ini
diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran dan penerapan langsung berbagai pendekatan
pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Pendekatan tersebut
tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah, tetapi juga mendorong pemilahan dan
pengolahan sampah sesuai karakteristiknya agar dapat memberikan manfaat bagi lingkungan
maupun masyarakat.

Ke depan, area pengolahan sampah tersebut akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan
peralatan sederhana untuk mendukung pengolahan sampah organik maupun anorganik. Sampah
organik direncanakan akan dikelola melalui penerapan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF)
sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah organik. Sementara itu, pengolahan sampah
anorganik, khususnya plastik, akan didukung melalui penyediaan mesin pencacah plastik, mesin
press, dan insinerator sesuai dengan kebutuhan sistem pengelolaan yang dikembangkan.
Penyediaan fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam
melakukan pengelolaan sampah sejak dari tahap pemilahan hingga pengolahan. Sampah tidak
lagi hanya dipandang sebagai material yang harus dibuang, tetapi juga dapat dikelola
berdasarkan jenis dan karakteristiknya.

Melalui proses yang lebih terstruktur, sampah organik dapat dimanfaatkan melalui pendekatan pengolahan biologis, sedangkan sampah anorganik dapat dipilah dan diolah untuk mengurangi volumenya serta meningkatkan peluang pemanfaatan kembali.
Kegiatan pengadaan sarana TPS3R juga akan dilanjutkan dengan program pelatihan pengolahan
sampah dan familiarisasi penggunaan peralatan bagi komunitas peduli sampah pesisir yang telah
dibentuk. Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
anggota komunitas dalam mengoperasikan fasilitas pengelolaan sampah secara tepat, aman, dan
berkelanjutan. Dengan demikian, keberadaan sarana dan peralatan tidak hanya menjadi fasilitas
fisik, tetapi dapat benar-benar dimanfaatkan dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

Kepala Desa Gili Ketapang, Bapak Monir, menyambut baik kolaborasi yang terjalin antara
PPNS, BUMDes, dan Pemerintah Desa dalam pengembangan sarana pengolahan sampah.
Dukungan dan keterlibatan pemerintah desa diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan
program, khususnya dalam mendorong partisipasi masyarakat dan penguatan kelembagaan
pengelola sampah. Kehadiran TPS3R juga diharapkan menjadi salah satu langkah strategis dalam
menjaga kebersihan lingkungan Pulau Gili Ketapang yang memiliki potensi besar di sektor
pariwisata.
BUMDes Gili Bahari Makmur turut memiliki peran penting dalam mendukung keberlanjutan
pengelolaan sarana yang akan disediakan. Kolaborasi dengan BUMDes diharapkan dapat
membuka peluang pengembangan model pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada
aspek lingkungan, tetapi juga memiliki nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Penguatan
peran BUMDes dan komunitas lokal menjadi bagian penting dalam memastikan sistem yang
dikembangkan dapat terus berjalan setelah pelaksanaan program penelitian.
Melalui pengadaan sarana TPS3R ini, Pulau Gili Ketapang diharapkan dapat mengembangkan
sistem pengelolaan sampah wisata yang lebih terintegrasi, mulai dari pemilahan, pengolahan,
hingga pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai. Keberadaan fasilitas tersebut
juga diharapkan dapat memperkuat perubahan perilaku masyarakat terhadap sampah serta
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan pesisir.

Program “Gili Ketapang Zero-Waste Living Lab: Transformasi Pengelolaan Sampah Wisata
melalui Kolaborasi BUMDes–Masyarakat–Perguruan Tinggi” didanai melalui Program
BESTARI SAINTEK LPDP RI, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun

Anggaran 2026. Melalui dukungan program tersebut, PPNS berkomitmen menghadirkan
penelitian yang dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat langsung bagi
masyarakat.
Sinergi antara PPNS, BUMDes Gili Bahari Makmur, Pemerintah Desa Gili Ketapang, dan
komunitas peduli sampah pesisir diharapkan menjadi fondasi bagi terwujudnya Pulau Gili
Ketapang sebagai kawasan yang semakin bersih, berdaya, dan berkelanjutan. Peletakan batu
pertama ini menjadi awal dari rangkaian pengadaan dan pengembangan sarana pengelolaan
sampah yang tidak berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi dilanjutkan dengan penguatan
kapasitas masyarakat, pelatihan, pendampingan, serta pengelolaan secara kolaboratif untuk
mendukung keberlanjutan lingkungan dan pariwisata Pulau Gili Ketapang.

Home Trending Kontak