Berita  

Produksi Gula Aren Rejang Lebong Tembus 3,2 Juta Kilogram pada Semester I 2026

Komoditas ini berasal dari perkebunan rakyat di 14 kecamatan dan melibatkan lebih dari 5.000 petani serta perajin.

Sertifikatin 1

Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, mencatat produksi gula aren di daerah tersebut mencapai 3.203.891 kilogram selama periode Januari hingga Juli 2026. Capaian itu setara dengan rata-rata produksi 1.702,4 kilogram per hektare.

Kepala Distankan Rejang Lebong Suradi Ripai mengatakan produksi tersebut berasal dari perkebunan rakyat yang tersebar di 14 dari total 15 kecamatan. Kecamatan Curup menjadi satu-satunya wilayah yang tidak memiliki perkebunan aren.

Perkebunan rakyat tersebar di 14 kecamatan

Total luas perkebunan aren di Rejang Lebong tercatat 2.160 hektare. Dari luasan tersebut, lahan yang telah memasuki masa panen mencapai 1.882 hektare.

Adapun sekitar 287 hektare lainnya terdiri atas tanaman muda yang baru ditanam serta sebagian tanaman tua yang sudah tidak lagi produktif. Data tersebut menunjukkan bahwa tidak seluruh areal perkebunan aren saat ini menghasilkan produksi.

Suradi menyebut gula aren sebagai salah satu komoditas unggulan Rejang Lebong, setelah kopi dan beragam tanaman sayuran. Kegiatan produksi gula aren juga menjadi sumber mata pencaharian bagi lebih dari 5.000 petani dan perajin di daerah itu.

Pendapatan perajin dan harga gula aren

Besaran pendapatan perajin berada pada kisaran Rp150.000 hingga Rp300.000 per hari. Nilainya bergantung pada volume produksi yang dapat dihasilkan setiap hari.

Sementara itu, harga gula aren batok atau gula cetak di tingkat petani saat ini berkisar Rp20.000 per kilogram. Informasi tersebut menggambarkan nilai ekonomi komoditas aren bagi pelaku usaha di tingkat produksi.

Produksi gula aren Rejang Lebong tidak hanya mengandalkan tanaman yang telah lama berkembang di perkebunan rakyat. Masyarakat setempat juga mengembangkan varietas aren lokal unggul bernama Semulen ST-1.

Varietas Semulen ST-1 terus dikembangkan

Varietas Semulen ST-1 telah dilepas oleh Kementerian Pertanian pada 2018. Penangkarannya masih terus dikembangkan oleh masyarakat Rejang Lebong.

Menurut Distankan, varietas tersebut memiliki karakter yang berada di antara aren genjah dan aren dalam. Semulen ST-1 disebut tahan terhadap hama serta mampu beradaptasi di berbagai kondisi lahan.

Tanaman itu mulai berproduksi ketika berusia sekitar enam hingga tujuh tahun. Dalam masa produksi, tanaman Semulen ST-1 dapat menghasilkan nira sebanyak 15 hingga 30 liter per hari. Tinggi pohonnya rata-rata sekitar 10 meter.

Dengan produksi semester pertama yang mencapai lebih dari 3,2 juta kilogram, gula aren menjadi salah satu sektor perkebunan rakyat penting di Rejang Lebong. Pengembangan tanaman muda dan penangkaran varietas lokal menjadi bagian dari keberlanjutan komoditas tersebut, meski sumber tidak memuat target produksi atau kebijakan lanjutan pemerintah daerah.

Sumber: ANTARA News – Terkini

Home Trending Kontak