Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Senin. Rupiah turun 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp18.046 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp18.027 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, mengatakan pergerakan tersebut dipengaruhi oleh potensi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve atau The Fed lebih lanjut.
Menurut Ibrahim, pernyataan terbaru sejumlah pejabat The Fed menunjukkan bahwa bank sentral AS masih membuka kemungkinan untuk memperketat kebijakan. Namun, hingga saat ini belum terdapat sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga dalam pertemuan The Fed pada 27–28 Oktober.
Pasar menanti arah kebijakan The Fed
Mengutip Anadolu, Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral terhadap stabilitas harga. Meski demikian, Warsh tidak memberikan petunjuk mengenai keputusan kebijakan yang akan diambil dalam rangkaian pertemuan The Fed yang tersisa tahun ini.
Pernyataan itu disampaikan dalam perbincangan dengan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva. Pertemuan tersebut berlangsung di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok, Thailand.
Warsh menyebut The Fed telah mengurangi sebagian akomodasi moneternya sekitar satu bulan sebelumnya. Ia juga mengatakan perkembangan sejak pertemuan September secara umum masih berjalan sesuai dengan ekspektasi.
Dalam menentukan kebijakan pada pertemuan Oktober dan Desember, para pengambil kebijakan The Fed akan mengevaluasi sejumlah indikator, termasuk output, ketenagakerjaan, dan inflasi. Warsh memilih tidak mendahului keputusan yang akan diambil dalam pertemuan-pertemuan tersebut dan menyebut sikap itu sebagai bagian dari babak baru di The Fed.
Risiko geopolitik ikut memengaruhi sentimen
Selain prospek kebijakan moneter AS, sentimen pasar juga dipengaruhi perkembangan geopolitik. Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran disebut masih menemui jalan buntu. Pada saat yang sama, ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Ansarullah di Yaman terus meningkat.
Ibrahim menilai kombinasi ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar tetap memperhatikan kemungkinan perubahan arah kebijakan The Fed. “Para pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun,” ujar Ibrahim.
Ekspektasi kenaikan suku bunga AS dapat menjadi perhatian bagi pasar valuta asing karena berpotensi memengaruhi sentimen terhadap dolar AS dan mata uang negara lain. Dalam konteks perdagangan hari itu, rupiah tercatat bergerak melemah terhadap dolar AS, sementara pelaku pasar masih menunggu kejelasan mengenai keputusan The Fed pada pertemuan-pertemuan berikutnya.
JISDOR bergerak berbeda
Berbeda dengan kurs rupiah pada penutupan perdagangan, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama justru bergerak menguat. JISDOR berada di level Rp18.050 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya sebesar Rp18.052 per dolar AS.
Dengan demikian, terdapat perbedaan arah antara nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan dan indikator JISDOR. Rupiah di pasar ditutup melemah ke Rp18.046 per dolar AS, sedangkan JISDOR Bank Indonesia menguat ke Rp18.050 per dolar AS.
Sumber: ANTARA News – Finansial


















