Sarat Filosofi Budaya Jawa, Prosesi Temu Temanten Padang Wahyu Eka dan Talitha Rahma Diar Berlangsung Khidmat

Sidoarjo, INFOJAWATIMUR.COM

Prosesi Temu Temanten pasangan Padang Wahyu Eka, S.H. dan Talitha Rahma Diar, S.E.I. berlangsung khidmat di Perum TNI AL Jala Griya, Karangtanjung, Candi, Sidoarjo, Kamis (23/7/2026). Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut dihadiri keluarga besar, kerabat, sahabat, serta para tamu undangan yang turut memberikan doa restu kepada kedua mempelai.

Temu Temanten merupakan salah satu prosesi puncak dalam adat pernikahan Jawa yang melambangkan perjumpaan resmi kedua mempelai setelah akad nikah. Lebih dari itu, prosesi ini menjadi simbol bersatunya dua keluarga dalam ikatan kasih sayang, penghormatan, tanggung jawab, serta harapan akan kehidupan rumah tangga yang harmonis dan penuh keberkahan.

Suasana sakral berpadu dengan nuansa kekeluargaan yang hangat sepanjang prosesi berlangsung. Setiap tahapan adat dijalankan dengan penuh khidmat, mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu prosesi yang dijalani kedua mempelai adalah Kacar Kucur (Tampa Kaya). Dalam prosesi ini, mempelai pria menyerahkan berbagai hasil bumi kepada mempelai wanita sebagai simbol tanggung jawab suami dalam mencari nafkah. Filosofi Kacar Kucur mengajarkan bahwa rezeki yang diperoleh hendaknya dikelola secara bijaksana melalui kerja sama, keterbukaan, serta saling percaya demi mewujudkan keluarga yang sejahtera.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan prosesi Dulang-dulangan, yakni saling menyuapi antara kedua mempelai. Tradisi ini menjadi lambang kasih sayang, kebersamaan, dan kepedulian suami istri dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Melalui prosesi tersebut, kedua mempelai diharapkan senantiasa saling mendukung, melengkapi, serta berbagi suka maupun duka dalam membangun keluarga yang harmonis dan penuh keberkahan.

Kedua mempelai tampil anggun dengan sentuhan rias dari Kelana Make Up. Momen-momen sakral selama prosesi diabadikan oleh Ubay Foto, sementara sajian bagi para tamu disiapkan oleh Citra Catering yang turut mendukung kelancaran jalannya acara.

Owner Kelana Make Up, Oci, mengatakan Temu Temanten bukan sekadar rangkaian seremoni pernikahan, melainkan simbol bersatunya dua hati dan dua keluarga dalam ikatan yang penuh cinta, restu, serta harapan untuk masa depan.

Menurut Oci, tantangan mendampingi prosesi adat Jawa tidak hanya menghasilkan riasan yang indah, tetapi juga memastikan setiap tahapan berjalan lancar dan sukses tanpa mengurangi kenyamanan kedua mempelai.

“Tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara keindahan riasan dan kelancaran prosesi adat. Sebagai perias, saya harus bekerja dengan detail, memahami setiap tahapan adat Jawa, mengatur waktu dengan baik, serta tetap tenang agar pengantin merasa nyaman dan prosesi berjalan khidmat,” ujar Oci.

Oci berharap generasi muda terus bangga menggunakan adat pengantin Jawa serta ikut melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Saya merasa bangga dapat mendampingi prosesi Temu Temanten Padang Wahyu Eka dan Talitha Rahma Diar. Kedua mempelai beserta keluarga sangat menghargai setiap rangkaian adat yang dijalankan sehingga seluruh prosesi berlangsung dengan penuh kekhidmatan,” tambahnya.

Sementara itu, Padang Wahyu Eka dan Talitha Rahma Diar mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian prosesi pernikahan mereka.

“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga besar, sahabat, serta seluruh pihak yang telah memberikan doa, dukungan, dan membantu menyukseskan rangkaian acara pernikahan kami. Semoga ikatan yang kami bangun ini menjadi awal perjalanan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta membawa manfaat bagi keluarga dan sesama,” ungkap keduanya.

Prosesi Temu Temanten yang dijalankan Padang Wahyu Eka dan Talitha Rahma Diar menjadi bukti bahwa adat pernikahan Jawa tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman. Di balik setiap rangkaian prosesi tersimpan nilai-nilai luhur tentang tanggung jawab, kebersamaan, kasih sayang, penghormatan kepada orang tua, serta doa yang mengiringi langkah awal kehidupan rumah tangga. Warisan budaya tersebut diharapkan terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia.

Need Help? Chat with us