Studi Queen Mary University of London Ungkap Pengaruh Baik Puasa bagi Tubuh Orang

0
12
Studi Queen Mary University of London Ungkap Pengaruh Baik Puasa bagi Tubuh Orang

INFOJAWATIMUR.com – Jakarta – Selama berabad-abad puasa mendapat tempat penting pada berbagai budaya juga agama di tempat dunia. Praktik yang tersebut dilaksanakan oleh pemeluk sebagian agama ini dipuji akibat khasiatnya diyakini membersihkan kemudian merevitalisasi tubuh manusia. 

Sebenarnya seperti apa cara kerja tubuh pada waktu berpuasa sehingga dapat berdampak baik bagi kemampuan fisik manusia? Para peneliti di tempat Precision Healthcare University Research Institute (PHURI) pada Queen Mary University of London tertarik menjawab pertanyaan ini serta memulai eksperimen unik, seperti dilansir oleh earth.com.

Dalam eksperimen ini, ada 12 sukarelawan yang setuju untuk berpartisipasi di puasa air selama 7 hari. Sambil memantau kebugaran merek dengan cermat, para peneliti bertujuan untuk memberikan ilustrasi komprehensif tentang bagaimana tubuh bereaksi ketika kekurangan makanan.

Studi tersebut, yang mana dimuat di area Jurnal Nature, mengungkapkan titik balik penting masalah bagaimana tubuh merespons puasa. Dalam beberapa hari pertama, tubuh beralih dari pengaplikasian gula sebagai energi ke pembakaran simpanan lemak, yang mana dikenal sebagai ketosis. Ini adalah merupakan respons awal tubuh untuk menegaskan miliki cukup energi untuk bertahan hidup.

Setelah tiga hari berpuasa, tubuh memulai respons lebih tinggi luas yang digunakan melibatkan pembaharuan pada berbagai organ serta sistemnya. Perubahan ini mencakup penyesuaian protein yang digunakan menggalang otak, sistem kekebalan tubuh, dan juga bahkan kemungkinan perbaikan sel. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh memasuki keadaan yang mana berbeda, berfokus pada efisiensi juga pemeliharaan pada pada waktu ketersediaan pangan rendah.

Para peneliti juga mempelajari hampir 3.000 protein di darah para sukarelawan survei ini. Yang mengejutkan, sekitar sepertiga protein berubah secara signifikan selama periode puasa. Protein-protein ini, ditemukan di tempat berbagai organ kemudian terlibat pada beragam proses biologis, menunjukkan bahwa puasa memicu respons seluruh tubuh, tidak inovasi terisolasi di tempat area tertentu.

Menariknya, inovasi kadar protein terjadi secara konsisten pada semua peserta, meskipun ada perbedaan gender kemudian kebugaran individu dari para sukarelawan. Konsistensi ini menunjukkan respons yang dimaksud mendasar dan juga mendarah daging terhadap puasa, sebuah mekanisme bawaan pada tubuh manusia. Hal ini adalah proses biologis universal yang mana terlibat untuk menangani bukan adanya nutrisi yang mana masuk lalu mengoptimalkan fungsi selama kondisi tersebut.

Peneliti juga menemukan bahwa puasa mengubah protein yang dimaksud ditemukan di tempat jaringan struktur pendukung otak, yang mana disebut matriks ekstraseluler. Jaringan ini menyediakan dukungan struktur dan juga biokimia untuk sel-sel otak. Perubahan matriks ekstraseluler dapat berdampak signifikan pada fungsi otak, mulai dari kebugaran sel-sel otak hingga efektivitas komunikasi satu sebanding lain. 

Temuan mengenai matriks ekstraseluler ini menunjukkan bahwa puasa dapat berdampak positif bagi kondisi tubuh otak. “Untuk pertama kalinya, kami dapat mengamati apa yang tersebut terjadi pada tingkat molekuler di area seluruh tubuh pada waktu kita berpuasa,” kata Claudia Langenberg, Direktur PHURI.

“Puasa, apabila dijalankan dengan aman, adalah intervensi penurunan berat badan yang dimaksud efektif. Pola makan populer yang mana menggabungkan puasa – seperti puasa intermiten – mengklaim memiliki khasiat kesehatan, selain penurunan berat badan,” kata Claudia. “Hasil kami memberikan bukti kegunaan kemampuan fisik dari puasa selain penurunan berat badan. Namun hal ini baru terlihat pasca tiga hari pembatasan kalori total – lebih banyak lambat dari yang digunakan kami perkirakan sebelumnya.”

Dengan memahami cara kerja puasa pada tingkat yang lebih tinggi dalam, para ilmuwan kemungkinan besar dapat mengembangkan perawatan yang dimaksud meniru manfaatnya tanpa memerlukan puasa yang sebenarnya. Pengetahuan ini, tulis earth.com, juga dapat membantu mengatasi permasalahan kebugaran modern seperti obesitas juga hiperglikemia dengan memberikan dasar bagi rekomendasi atau intervensi pola makan baru yang menggunakan prinsip puasa untuk meningkatkan kesehatan.

Rekan penulis studi ini, Maik Pietzner, Ketua Informasi Bidang Kesehatan PHURI, menambahkan bahwa temuan ini memberikan dasar bagi beberapa pengetahuan kuno tentang mengapa puasa digunakan untuk kondisi tertentu. “Meskipun puasa kemungkinan besar bermanfaat untuk mengobati beberapa kondisi, seringkali, puasa bukanlah pilihan bagi pasien yang mana menderita penyakit,” kata dia. 

Maik Pietzner berharap temuan ini dapat memberikan informasi persoalan mengapa puasa bermanfaat pada kasus-kasus tertentu, yang tersebut kemudian dapat digunakan untuk mengembangkan perawatan yang tersebut dapat diadakan terhadap pasien.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here