Workshop di Kampoeng Batja Jember Jadi Ruang Belajar dan Berkarya bagi Siswa

Jember, INFOJAWATIMUR.COM –

Kampoeng Batja Jember menggelar workshop literasi yang mempertemukan siswa, guru, dan kepala sekolah SMK Ibnu Kholdun Situbondo. Diikuti sekitar 35 peserta, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar sekaligus wadah pengembangan komunitas penulisan bagi para siswa.

Workshop melibatkan Arief Bachtiar, guru Bahasa Indonesia SMK Negeri 5 Jember yang bergabung dengan Kampoeng Batja untuk mengembangkan komunitas penulisan. Selain mendapatkan materi kepenulisan, peserta juga mengikuti peluncuran antologi cerpen dan puisi karya siswa yang tergabung dalam komunitas.

Kampoeng Batja turut mendonasikan sejumlah buku untuk mendukung rintisan perpustakaan berupa sudut baca. Bazar buku juga digelar untuk mendorong peserta, khususnya siswa, semakin dekat dengan aktivitas membaca dan buku.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan peserta ke Museum Literasi Kampoeng Batja. Para peserta terlihat antusias mengeksplorasi ruang-ruang yang tersedia dan mengenal lebih dekat berbagai aktivitas yang dikembangkan Kampoeng Batja.

Pegiat Literasi Jawa Timur, Makrus Sahlan, menilai kegiatan tersebut menunjukkan pentingnya menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas membaca, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengalami proses belajar secara langsung.

“Yang menarik dari Kampoeng Batja adalah bagaimana buku tidak berhenti sebagai koleksi. Buku dihidupkan melalui kegiatan, komunitas, karya, dan interaksi antarpeserta. Ini yang membuat literasi menjadi pengalaman,” kata Makrus.

Menurutnya, peluncuran antologi karya siswa menjadi salah satu bagian penting karena menunjukkan adanya proses berkelanjutan, dari membaca, berdiskusi, hingga menghasilkan karya.

“Ketika siswa diberi ruang untuk membaca, berdiskusi, kemudian menulis dan karyanya diterbitkan, mereka belajar bahwa gagasan mereka memiliki nilai. Proses seperti ini perlu diperbanyak di sekolah maupun komunitas,” ujarnya.

Makrus juga mengapresiasi langkah Kampoeng Batja dalam mendukung rintisan sudut baca melalui donasi buku.

“Sudut baca memang sederhana, tetapi bisa menjadi awal yang penting. Tantangannya bukan hanya menyediakan buku, melainkan bagaimana membuat buku itu hadir dalam keseharian anak dan keluarga,” katanya.

Ia berharap kolaborasi antara sekolah, taman baca, komunitas, dan masyarakat dapat terus dikembangkan sehingga gerakan literasi tidak berhenti pada satu kegiatan.

“Pesan saya, kegiatan seperti ini jangan berhenti sebagai agenda seremonial. Setelah workshop selesai, harus ada kelanjutan berupa komunitas membaca, komunitas menulis, sudut baca keluarga, atau kegiatan lain yang membuat anak terus berinteraksi dengan pengetahuan,” tutur Makrus.

Berawal dari Perpustakaan Sederhana

Kampoeng Batja Jember didirikan Iman Suligi, yang akrab disapa Kung Iman, sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya membaca dalam kehidupan masyarakat.

Perjalanan Kampoeng Batja bermula dari perpustakaan sederhana bernama Indonesia Membaca pada 1983. Seiring waktu, berbagai kegiatan dikembangkan, antara lain perpustakaan keliling, persewaan komik, serta program untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Pada 2009, perpustakaan tersebut bertransformasi menjadi taman baca masyarakat dengan visi membangun budaya literasi, memperluas akses belajar, dan menyediakan ruang edukasi yang terbuka bagi berbagai kalangan.

Kini, Kampoeng Batja memiliki sekitar 4.000 koleksi buku dari berbagai bidang dan genre. Keberadaannya berkembang menjadi pusat pembelajaran sekaligus destinasi wisata edukasi berbasis literasi.

Berlokasi di Jalan Nusa Indah, Krajan, Jemberlor, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Kampoeng Batja aktif menyelenggarakan berbagai program, seperti wisata literasi, book circle, peminjaman buku bergilir, lomba menulis surat, dan podcast.

Iman Suligi berharap gerakan tersebut dapat terus berkembang hingga menjangkau lingkungan keluarga dan komunitas di Situbondo.

“Bersama kita akan menumbuhkan sudut baca keluarga dan komunitas di Situbondo,” ujar Iman.

Kegiatan workshop tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan literasi melalui kolaborasi antara sekolah, komunitas, dan taman baca masyarakat. Sebab, literasi bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang dibaca, melainkan bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat melahirkan gagasan, karya, dan perubahan.

Home Trending Kontak
Exit mobile version