Kampus Turun ke Dapur UMKM, Pendampingan Unair Dongkrak Omzet Warung Bu Ulfa hingga 70 Persen

INFOJAWATIMUR.COMSURABAYA – Pendampingan Universitas Airlangga (Unair) membawa perubahan pada Warung Makan Bu Ulfa, usaha kuliner skala mikro di Kelurahan Pacar Kembang, Surabaya. Sejumlah persoalan usaha, mulai dari proses produksi yang masih manual, peralatan memasak yang kurang higienis hingga tata kelola usaha, dibenahi melalui penerapan teknologi tepat guna dan pendampingan manajemen.

Salah satu perubahan terlihat pada proses produksi. Penggunaan chopper untuk membantu pengolahan bumbu yang sebelumnya dilakukan secara manual menggunakan ulekan dan cobek membuat waktu pemrosesan memasak yang semula 5 jam menjadi 3 jam.

Perubahan juga terlihat dari sisi pendapatan. Omzet Warung Bu Ulfa yang sebelumnya stagnan di kisaran Rp150 ribu per hari meningkat menjadi rata-rata Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari pascapendampingan hingga Agustus 2026 atau naik sebesar 70 persen.

Namun, dampak program tidak berhenti pada perubahan usaha. Dapur Warung Bu Ulfa sekaligus menjadi ruang belajar bagi 21 mahasiswa Unair untuk menerjemahkan materi perkuliahan menjadi solusi atas persoalan usaha yang benar-benar dihadapi masyarakat.

Warung Makan Bu Ulfa merupakan usaha kuliner skala mikro milik warga miskin binaan Pemerintah Kota Surabaya kategori Desil 2. Pendampingan dilakukan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Unair yang terdiri atas Tri Siwi Agustina dan Puput Tri Komalasari dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Bambang Soeharto dari Fakultas Vokasi.

Tri Siwi Agustina menjelaskan, pendampingan dilakukan dengan melihat kebutuhan nyata yang dihadapi mitra. Program tidak hanya diarahkan pada pemberian peralatan, tetapi juga pembenahan proses produksi, inovasi produk, tata kelola usaha hingga digitalisasi.

“Kami ingin pendampingan ini benar-benar menjawab kebutuhan mitra. Jadi bukan sekadar memberikan alat, tetapi bagaimana teknologi yang sederhana sekalipun bisa membuat proses produksi lebih efisien dan pengelolaan usahanya menjadi lebih baik,” tutur Tri Siwi.

Dari Ulekan ke Teknologi Tepat Guna

Sebelum pendampingan, proses pembuatan bumbu di Warung Bu Ulfa masih mengandalkan ulekan dan cobek. Cara manual tersebut membuat proses produksi membutuhkan waktu cukup panjang.

Tim kemudian melakukan peremajaan alat memasak dengan peralatan berstandar pangan (food grade). Penggunaan peralatan berteknologi seperti chopper menjadi salah satu bagian dari pembenahan proses produksi.

Hasilnya, waktu pemrosesan memasak yang sebelumnya mencapai 5 jam menjadi 3 jam.

“Sebelumnya pembuatan bumbu masih dilakukan secara manual. Dengan penggunaan alat seperti chopper, proses memasak yang sebelumnya mencapai 5 jam bisa menjadi 3 jam,” jelas Tri Siwi.

Menurutnya, teknologi yang diterapkan tidak harus rumit. Hal terpenting adalah kesesuaiannya dengan persoalan yang benar-benar dihadapi pelaku usaha sehingga dapat membantu proses produksi sehari-hari.

Pendampingan juga menyentuh inovasi kuliner. Mitra mendapatkan pelatihan pembuatan bakso berbahan nangka muda atau tewel melalui metode Doing-Observation-Reflection-Action (DORA).

Melalui proses tersebut, mitra semakin terampil memproduksi variasi menu baru, seperti Mie Ayam Toping Ceker Bakso Tewel hingga Capcay.

21 Mahasiswa Belajar dari Persoalan Nyata UMKM

Warung Bu Ulfa tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pendampingan UMKM. Di tempat yang sama, 21 mahasiswa Unair belajar menerjemahkan teori perkuliahan menjadi solusi atas persoalan usaha yang benar-benar dihadapi masyarakat.

Para mahasiswa berasal dari tiga mata kuliah berbeda. Mereka mempraktikkan langsung materi perkuliahan pada usaha Bu Ulfa melalui skema rekognisi mata kuliah sebagai salah satu syarat kelulusan.

Ketiga mata kuliah tersebut meliputi Manajemen Usaha Kecil Menengah pada S1 Manajemen, serta Manajemen Kreativitas dan Inovasi dan Wirausaha Fashion dan Kuliner pada S2 PSDM Peminatan Industri Kreatif.

“Mahasiswa belajar langsung dari persoalan riil mitra. Apa yang selama ini mereka pelajari di kelas, mulai dari manajemen usaha kecil, kreativitas, inovasi hingga kewirausahaan, mereka praktikkan langsung di sini,” tutur Tri Siwi.

Keterlibatan mahasiswa tidak berhenti pada observasi. Mereka terjun membantu berbagai aspek usaha sesuai kebutuhan mitra.

Mahasiswa membantu membedah tata kelola harga, menyusun buku menu, meredesain identitas visual atau branding pada kemasan, hingga membantu Warung Bu Ulfa memasuki ekosistem digital.

Lokasi warung didaftarkan di Google Maps agar lebih mudah ditemukan konsumen. Mahasiswa juga mendampingi penggunaan QRIS sebagai sarana transaksi pembayaran digital.

Dengan demikian, persoalan riil yang ditemukan pada usaha mikro menjadi bagian dari proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep di ruang kelas, tetapi belajar mengidentifikasi masalah, menerapkan pengetahuan, dan melihat langsung dampak solusi yang diberikan kepada mitra.

Omzet Naik 70 Persen

Rangkaian pembenahan tersebut menunjukkan hasil pada kinerja usaha.

Omzet harian Warung Bu Ulfa yang sebelumnya stagnan di kisaran Rp150 ribu per hari meningkat menjadi rata-rata Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari pascapendampingan hingga Agustus 2026. Berdasarkan catatan program, peningkatan tersebut mencapai 70 persen dibandingkan kondisi awal.

“Yang paling terasa tentu usaha menjadi lebih terbantu. Proses memasak sekarang lebih cepat dan usaha juga semakin tertata. Kalau sebelumnya omzet sekitar Rp150 ribu per hari, sekarang rata-rata sudah sekitar Rp250 ribu sampai Rp300 ribu,” tutur Bu Ulfa.

Capaian tersebut juga mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs Nomor 1 tentang Tanpa Kemiskinan dan SDGs Nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.

Warung Bu Ulfa Jadi “Laboratorium” Mahasiswa

Model pendampingan yang mempertemukan pemberdayaan UMKM dengan pembelajaran mahasiswa tersebut mendapat perhatian saat peninjauan lapangan Tim Reviewer Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Kamis (3/9/2026).

Tim reviewer memberikan apresiasi sangat positif karena program dinilai “membumi” dan mampu menjawab kebutuhan nyata mitra.

Apresiasi khusus diberikan terhadap skema rekognisi mata kuliah yang diterapkan dalam program. Warung Makan Bu Ulfa dinilai tidak sekadar menjadi lokasi pengabdian, tetapi juga menjadi “laboratorium” pembelajaran langsung bagi mahasiswa.

“Warung Bu Ulfa menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi melihat masalah, merumuskan solusi, menerapkannya, kemudian melihat sendiri bagaimana dampaknya bagi mitra,” jelas Tri Siwi.

Skema tersebut mempertemukan pengabdian kepada masyarakat dan proses pendidikan dalam ruang yang sama. Mitra memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi perguruan tinggi, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman belajar dari persoalan nyata yang dihadapi pelaku usaha mikro.

Dari dapur Warung Bu Ulfa di Pacar Kembang, perubahan berlangsung melalui hal-hal yang dekat dengan keseharian usaha: proses pengolahan bumbu yang sebelumnya mengandalkan ulekan dan cobek kini dibantu chopper, menu bertambah, kemasan dibenahi, lokasi usaha masuk Google Maps, transaksi didukung QRIS, dan pengelolaan usaha semakin tertata.

Pada saat yang sama, 21 mahasiswa mendapatkan pengalaman bahwa ilmu yang dipelajari di kampus tidak berhenti pada teori. Persoalan nyata UMKM menjadi ruang untuk belajar, mencoba, dan menghadirkan solusi.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bagaimana hilirisasi pendidikan dan pengabdian perguruan tinggi dapat bekerja di tingkat akar rumput: membantu usaha mikro bertumbuh sekaligus membawa mahasiswa lebih dekat dengan realitas masyarakat. (*)

Home Trending Kontak
Exit mobile version