Berita  

Penyaluran SPHP Beras 2026 Capai 758 Ribu Ton, Pemerintah Tambah Alokasi 1 Juta Ton

Tambahan beras medium diarahkan menjaga pasokan dan harga hingga akhir tahun di tengah musim paceklik dan kekeringan.

JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pada 2026 telah mendekati target awal. Hingga 7 September, realisasi penjualan mencapai 758 ribu ton atau 91,55 persen dari alokasi 828 ribu ton.

Capaian tersebut membuat realisasi SPHP beras tahun ini semakin mendekati penyaluran sepanjang 2025 yang tercatat 802,9 ribu ton. Pemerintah kemudian memutuskan menambah alokasi beras medium sebanyak 1 juta ton agar tidak terjadi kekosongan beras dengan harga terjangkau hingga akhir 2026.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan program SPHP terus diperkuat pemerintah. Menurut dia, tambahan pasokan itu merupakan bagian dari operasi pasar berskala besar untuk menekan harga beras.

Alokasi awal SPHP beras 2026

Program SPHP beras 2026 mulai digulirkan pada Maret dengan alokasi 828 ribu ton. Namun, pelaksanaan program juga telah berlangsung pada Januari dan Februari sebagai kelanjutan SPHP beras 2025, sebelum program tahun 2026 kembali dijalankan pada awal Maret.

Untuk alokasi 828 ribu ton tersebut, pemerintah menyiapkan anggaran subsidi harga sebesar Rp4,97 triliun. Anggaran Belanja Tambahan (ABT) itu telah tersedia dalam anggaran Bapanas.

Keputusan penambahan 1 juta ton beras medium diambil dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) di Kementerian Koordinator Bidang Pangan pada 7 September. Usulan tersebut selanjutnya akan diajukan untuk memperoleh direktif Presiden. Setelah itu, Kementerian Keuangan akan meninjau usulan ABT yang diperlukan.

Tambahan pasokan untuk menghadapi paceklik

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan, tambahan alokasi tersebut disiapkan untuk merespons musim paceklik dan kondisi kekeringan. Pemerintah menilai harga beras perlu dijaga ketika pasokan menghadapi tekanan akibat musim kering.

Zulkifli menyebut alokasi awal 828 ribu ton telah menyisakan sekitar 80 ribu ton. Tambahan 1 juta ton beras medium itu direncanakan untuk memasok pasar pada Oktober, November, dan Desember.

Menurut dia, penambahan pasokan diharapkan dapat menekan kenaikan harga beras di pasar. Pemerintah juga ingin memastikan beras subsidi tetap tersedia hingga akhir tahun, terutama karena musim kemarau berlangsung panjang.

Perkembangan indikator harga beras

Bapanas menyebut perkembangan harga beras mulai menunjukkan perbaikan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada minggu pertama September, kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras tercatat terjadi di 115 kabupaten/kota.

Jumlah tersebut menurun dibandingkan minggu terakhir Agustus, ketika kenaikan IPH beras masih terjadi di 147 kabupaten/kota. Data itu menunjukkan tekanan kenaikan harga beras mulai berkurang di sejumlah daerah.

BPS juga melaporkan inflasi beras hingga Agustus 2026 mulai stabil, baik secara tahunan maupun bulanan. Inflasi beras secara tahunan tercatat 2,77 persen, turun dari 3,10 persen pada bulan sebelumnya. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi beras pada Agustus 2025 yang mencapai 4,24 persen.

Secara bulanan, inflasi beras pada Agustus 2026 berada di level 0,42 persen, turun dari 0,49 persen pada bulan sebelumnya. Sepanjang 2026, inflasi beras bulanan disebut belum pernah melampaui 1 persen.

Sumber: ANTARA News – Terkini

Home Trending Kontak
Exit mobile version