Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar menekankan pentingnya penerapan ethical franchising atau praktik waralaba beretika dalam pengembangan usaha. Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan agar bisnis kemitraan dapat tumbuh secara lebih kuat dan akuntabel di tengah dinamika pasar.
Pernyataan itu disampaikan Anang saat membuka International Franchise, License and Business Concept Expo & Conference (IFRA) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Jumat. Pameran dan konferensi tersebut berlangsung hingga 30 Agustus 2026.
Etika dan standardisasi dalam waralaba
Anang menjelaskan, nilai etika dalam sistem waralaba perlu diwujudkan melalui standardisasi usaha yang aman, legal, dan transparan. Menurutnya, unsur-unsur tersebut menjadi fondasi penting untuk merespons perkembangan pasar kemitraan yang terus bergerak.
Penerapan standar yang jelas diharapkan membuat ekosistem bisnis kemitraan semakin akuntabel. Selain itu, model tersebut dinilai dapat membantu mengakselerasi pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) nasional.
Dalam pengembangan waralaba, Anang juga menyoroti pentingnya sistem dan format bisnis yang terstruktur. Ia menjelaskan bahwa waralaba bukan hanya bentuk pemasaran, melainkan juga strategi untuk memperluas usaha. Karena itu, setiap bisnis waralaba perlu memiliki business format serta sistem yang jelas.
“Waralaba itu sebetulnya konsep pemasaran sekaligus strategi perluasan usaha,” kata Anang.
Potensi sektor usaha Indonesia
Menurut Anang, Indonesia memiliki kekayaan sektor usaha yang dapat dikembangkan melalui sistem waralaba, salah satunya kuliner. Namun, potensi tersebut perlu ditopang pembangunan sistem bisnis yang kuat dan jelas agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menilai peluang pengembangan bisnis waralaba di Indonesia cukup besar. Meski demikian, realisasinya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk para pelaku usaha dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam ekosistem kemitraan.
Dorongan terhadap ethical franchising menjadi bagian dari upaya memperkuat praktik usaha waralaba, bukan hanya dari sisi ekspansi, tetapi juga dari kepastian model bisnis dan hubungan kemitraan yang lebih transparan. Dalam konteks tersebut, kejelasan sistem menjadi salah satu aspek yang ditekankan AFI.
IFRA 2026 menjadi ruang temu bisnis
IFRA 2026 digelar AFI bersama Dyandra Promosindo dengan dukungan Kementerian Perdagangan. Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku usaha, pemilik jenama, dan calon mitra untuk saling mengenal model bisnis sebelum memutuskan kerja sama.
Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung mengatakan IFRA dapat menjadi ruang temu strategis bagi pihak-pihak yang ingin memahami peluang dan model bisnis waralaba. Menurut dia, proses pengenalan tersebut penting dilakukan sebelum calon mitra dan pemilik usaha menjalin kemitraan.
Pameran itu menghadirkan berbagai sektor, antara lain makanan dan minuman, pendidikan, kesehatan, serta bidang usaha lainnya. Kehadiran beragam sektor tersebut menunjukkan cakupan bisnis yang dapat masuk dalam ekosistem waralaba dan kemitraan.
Daswar juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan IFRA tidak hanya ditujukan untuk mempertemukan pelaku usaha. Kegiatan itu turut diarahkan untuk membuka ruang pertumbuhan bagi pelaku usaha baru, termasuk penggiat startup lokal yang sedang merintis ide bisnis.
Dengan demikian, IFRA 2026 menjadi wadah pertemuan antara pemilik merek, pelaku usaha, calon mitra, dan perintis bisnis. Sementara itu, penekanan AFI terhadap ethical franchising menempatkan keamanan, legalitas, transparansi, serta kejelasan sistem sebagai unsur penting dalam pengembangan usaha waralaba.
Sumber: ANTARA News – Bisnis

















