Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM – Gejolak tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu krisis kepercayaan pasar dan sentimen global kembali menyorot rapuhnya stabilitas ekonomi makro. Di balik fluktuasi angka-angka bursa, dampak sesungguhnya merembet hingga ke sektor ekonomi riil khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Merujuk pada pemberitaan terbaru tentang terguncangnya IHSG akibat “alarm keras” lembaga indeks global dan merosotnya kepercayaan investor, kalangan dunia usaha di Jawa Timur menilai situasi ini tidak bisa dipandang sebagai isu pasar modal semata. Efek sistemiknya berpotensi menekan likuiditas, memperketat kredit, serta melemahkan daya beli tiga faktor yang langsung memengaruhi keberlangsungan UMKM.
Yusuf Karim Ungsi, Wakil Ketua Umum Bidang UMKM KADIN Jawa Timur, menegaskan bahwa keterkaitan antara pasar modal dan UMKM bersifat tidak langsung namun nyata.
“Walaupun UMKM tidak langsung tercatat di bursa saham, gejolak pasar modal seperti anjloknya IHSG dan kekhawatiran global terhadap pasar Indonesia dapat memengaruhi akses pembiayaan, kepercayaan konsumen, dan peluang pertumbuhan UMKM secara tidak langsung melalui efek sistemik ekonomi makro yang lebih luas. Ini menegaskan pentingnya stabilitas pasar modal serta kebijakan yang menjaga kepercayaan investor untuk mendukung perkembangan UMKM di Indonesia secara berkelanjutan,” ujar Yusuf.
Menurutnya, ketika IHSG melemah tajam, investor baik asing maupun domestik cenderung menahan risiko. Dampaknya, aliran modal ke sektor riil ikut menyempit, termasuk ke jalur pembiayaan usaha yang biasa menjadi “napas” UMKM.
“UMKM sebagai tulang punggung ekonomi riil Indonesia adalah bagian dari ekosistem yang sangat bergantung pada kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Ketika IHSG turun tajam dan investor asing serta domestik menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan modalnya, arus modal yang biasanya juga mendukung sumber pembiayaan usaha seperti kredit, investasi, dan kredit modal kerja berpotensi menjadi lebih ketat dan selektif. Pengetatan modal ini bisa membuat akses pembiayaan UMKM menjadi semakin menantang, terutama bagi UMKM yang ingin berkembang atau meningkat kapasitas produksinya,” tambahnya.
Pengurus Bidang UMKM Berfoto bersama usai pelantikan
Di Jawa Timur, rumah bagi jutaan UMKM pengetatan likuiditas berisiko menunda ekspansi, menghambat pengadaan bahan baku, hingga menekan perekrutan tenaga kerja. Karena itu, KADIN Jatim mendorong kebijakan penyangga: stabilisasi pasar keuangan, perluasan skema pembiayaan (termasuk perbankan syariah dan non bank), serta penguatan pendampingan agar UMKM tetap bankable dan resilien di tengah volatilitas global.
Para pelaku UMKM juga diimbau memperkuat manajemen arus kas, melakukan diversifikasi pasar, dan memanfaatkan program kurasi vokasi pembiayaan yang disiapkan pemerintah dan mitra perbankan. Dengan begitu, guncangan di pasar modal tidak serta-merta menjelma menjadi guncangan di dapur produksi UMKM.
“Stabilitas pasar modal bukan hanya kepentingan investor, melainkan fondasi kepercayaan bagi seluruh ekosistem ekonomi dari lantai bursa hingga lapak UMKM di 38 kabupaten/kota Jawa Timur” ujar Yusuf, disela-sela pelantikan dan pengukuhan dewan pengurus Kadin Jawa Timur periode 2025-2030 di Gedung Negara Grahadi Minggu 1 Februari 2026.