JOMBANG — Para kiai sepuh mengingatkan peserta Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) untuk menjaga marwah dan kehormatan jam’iyyah selama seluruh rangkaian muktamar. Muktamirin juga diminta tidak terpengaruh tekanan, provokasi, pertikaian, maupun upaya yang dapat mengganggu proses organisasi.
Pesan tersebut disampaikan seusai pertemuan para kiai sepuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Rabu. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Ma’ruf Amin mengatakan peserta muktamar memiliki tanggung jawab besar karena memegang hak utama dalam menentukan kepemimpinan NU ke depan.
Menurut Ma’ruf, hak pilih harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab. Pilihan dalam muktamar, baik untuk Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) maupun kepengurusan NU yang akan datang, semestinya didasarkan pada pertimbangan terbaik bagi kemaslahatan jam’iyyah.
Ia mengingatkan agar muktamirin tidak memilih karena kepentingan pribadi atau kelompok. Kemampuan calon untuk membawa NU menuju arah yang lebih baik perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan.
Proses AHWA Diminta Bebas dari Tekanan
Para kiai sepuh secara khusus menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan martabat proses penentuan AHWA. Proses tersebut diharapkan berlangsung tanpa transaksi, tekanan, rekayasa, atau cara lain yang berpotensi mencederai kemuliaan ulama.
Muktamirin sebagai pemegang kedaulatan dalam muktamar juga diminta memperoleh kebebasan untuk menyampaikan pendapat dan menentukan pilihan. Kebebasan itu, menurut tausiah para kiai sepuh, harus dijaga dari pengondisian, manipulasi, tekanan, maupun rekayasa.
Ma’ruf menyampaikan bahwa tausiah tersebut diberikan untuk mengingatkan para peserta agar tidak terintimidasi atau terpengaruh provokasi ketika menjalankan haknya. Ia juga menekankan pentingnya memilih calon yang dinilai paling baik bagi masa depan NU.
Pemerintah dan Pihak Eksternal Diminta Menghormati NU
Selain ditujukan kepada muktamirin, seruan itu disampaikan kepada pemerintah, kekuatan politik, dan seluruh pihak di luar jam’iyyah. Mereka diminta menghormati kemandirian NU serta kedaulatan muktamar.
Pertemuan para kiai sepuh yang berlangsung sekitar satu jam tersebut menghasilkan tujuh poin tausiah. Poin-poin itu dibacakan oleh K.H. Muhibbul Aman Aly.
Salah satu tausiah meminta Presiden Prabowo Subianto mengambil tindakan tegas apabila terdapat pejabat yang dinilai melakukan tindakan tidak patut atau intervensi terhadap proses muktamar. Para kiai sepuh juga menyerukan pihak-pihak yang mengacaukan jalannya muktamar agar menghentikan tindakan tersebut.
Muktamar Digelar di Jombang pada 27–31 Agustus
Para kiai sepuh berharap Muktamar Ke-35 NU berlangsung dengan menjunjung adab, akhlakul karimah, persatuan, dan kemaslahatan jam’iyyah. Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Muktamar akan membahas berbagai persoalan organisasi serta arah perjalanan NU ke depan. Pembukaannya dijadwalkan dihadiri Presiden Prabowo Subianto.
Sumber: ANTARA News – Terkini

















