Berita  

Menko Muhaimin Dorong Pengolahan Kopi Manglayang agar Nilai Tambah Kembali ke Petani

Dari sekitar 50 ton produksi, baru 14 ton yang diolah, sedangkan 36 ton masih dijual sebagai bahan mentah.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menilai kopi Arabika dari kawasan Manglayang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya optimal karena sebagian besar hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah.

Dalam kunjungannya ke Pesan Trend atau Sekolah Rimba Indonesia yang dikembangkan Yayasan Pemuda Hijrah di Kabupaten Bandung, Muhaimin menyebut produksi kopi di kawasan itu mencapai sekitar 50 ton. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 14 ton yang telah diolah, sementara 36 ton lainnya masih dijual mentah.

Menurut Muhaimin, kondisi itu menunjukkan masih terbukanya ruang yang besar untuk meningkatkan nilai tambah kopi Manglayang. Ia menekankan agar pengolahan hasil panen dapat diperluas sehingga manfaat ekonomi yang diterima petani juga meningkat.

Produksi dan kapasitas pengolahan

Perkebunan kopi Arabika di kawasan Manglayang saat ini memiliki luas sekitar 12,7 hektare dan telah berproduksi. Pengembangan kebun juga berlanjut melalui penanaman kopi Arabika di lahan tambahan seluas sekitar 2 hektare.

Muhaimin mengatakan tantangan pengembangan kopi tidak hanya terletak pada peningkatan produksi. Kapasitas untuk menyerap hasil panen ke dalam rantai pengolahan juga perlu diperkuat. Jika produksi meningkat tanpa diikuti kemampuan pascapanen dan pengolahan, sebagian besar kopi akan tetap keluar dari wilayah produksi sebagai bahan mentah.

Ia mendorong penguatan tahapan pascapanen, pengolahan, penyimpanan, branding, hingga akses pasar. Menurut dia, seluruh aspek tersebut diperlukan agar hasil panen dapat diubah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi sebelum dipasarkan.

Produk lokal dan arah pengembangan

Pengembangan kopi lokal Manglayang saat ini telah menghasilkan sejumlah produk, yakni greenbean, roastbean, dan kopi bubuk. Produk-produk tersebut berasal dari kopi petani setempat dan dikembangkan melalui sistem agroforestri serta proses pengolahan yang terkontrol.

Ke depan, pengembangan diarahkan pada penguatan budidaya dan pascapanen, peningkatan kapasitas pengolahan, serta perbaikan kualitas produk. Penguatan branding dan perluasan akses pasar juga menjadi bagian dari langkah yang didorong untuk meningkatkan penyerapan hasil panen.

Dengan langkah tersebut, porsi kopi yang diolah diharapkan terus bertambah. Peningkatan pengolahan dinilai penting agar manfaat ekonomi dari komoditas tersebut tidak berhenti pada penjualan bahan mentah, tetapi lebih banyak kembali kepada petani dan masyarakat di wilayah produksi.

Muhaimin menegaskan bahwa petani harus menjadi bagian penting dalam rantai penciptaan nilai kopi. Ia menyatakan peningkatan produksi perlu diikuti dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi petani, sehingga nilai tambah tidak justru lebih banyak dinikmati di luar wilayah produksi.

Sumber: ANTARA News – Terkini

Home Trending Kontak
Exit mobile version